Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 kembali digelar

Bawa UMKM Naik Kelas, Festival Kopi Jatim Bidik Pasar Menengah Atas di Ciputra World

avatar Michael Fredy Yacob
Tenan yang berpartisipasi dalam Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata
Tenan yang berpartisipasi dalam Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata

SURABAYA, sanubari.co.id - Upaya memperluas pangsa pasar produk unggulan Jawa Timur terus berlanjut. Melalui Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata yang dirangkai dalam Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026. 

Sebanyak 30 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memamerkan kreasi mereka di Ciputra World Surabaya. Ajang ini berlangsung selama tiga hari, mulai 10-12 Juli 2026.

Baca Juga: Festival Kopi di Kota Lama Surabaya Dongkrak UMKM dan Pariwisata

Festival besutan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan DPRD Jawa Timur ini menjadi ruang temu strategis. Pemerintah, pelaku UMKM, serta masyarakat berinteraksi langsung untuk mendongkrak pamor produk ekonomi kreatif daerah.

Puluhan peserta dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya menyuguhkan aneka produk lokal. Mulai dari kopi khas Nusantara, cokelat, teh, olahan makanan, fesyen, hingga ragam camilan. 

Suasana pameran kian semarak dengan selingan peragaan busana dan pertunjukan musik yang menyedot animo pengunjung mal.

Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Ekonomi Kreatif Disbudpar Jawa Timur, Ali Afandi, menuturkan pameran ini merupakan edisi keempat. Sebelumnya, acara serupa sukses dihelat di Lapangan Atletik Unesa dan kawasan Kota Lama Surabaya.

Menurut Ali, target utama festival bukan sekadar memburu angka kunjungan, melainkan mempenetrasi kekayaan kopi Jawa Timur ke ceruk pasar yang lebih spesifik.

“Kami ingin masyarakat semakin menyadari bahwa kopi Jawa Timur punya kualitas luar biasa. Pemilihan pusat perbelanjaan ini sengaja untuk menyasar konsumen kelas menengah ke atas, sehingga kopi lokal makin diakui di pasar yang lebih luas," ujar Ali.

Setiap kawasan di Jawa Timur, kata Ali, memendam karakter kopi yang autentik—dari Ijen, Raung, Wilis, hingga kopi jenis Excelsa dari Jombang yang beraroma khas.

Saat ini, pamor kopi Ijen tengah menanjak seiring melesatnya kawasan tersebut sebagai primadona wisata domestik dan mancanegara. “Kopi Ijen paling dikenal sekarang. Magnet kawasan wisata turut mendongkrak popularitas kopinya,” katanya.

Eksplorasi pemerintah tak berhenti di kopi. Disbudpar juga mengerek potensi unggulan daerah lain, seperti Kabupaten Jember dengan konsep promosi 3C: cigar (cerutu), coffee (kopi), dan carnival (karnaval).

Ali menyebut Jember Fashion Carnaval (JFC) yang akan dihelat pada 24–26 Juli 2026 menjadi etalase penting pariwisata provinsi.

Baca Juga: BPBD Jatim dan BNPB Rintis Program UMKM Tangguh Bencana

"JFC dan Festival Reog Ponorogo menembus Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Pemerintah provinsi akan terus mendukung agar kualitas event daerah meningkat dan mengundang lebih banyak turis."

Festival di Ciputra World kali ini merupakan satu dari rangkaian tujuh ajang pameran serupa. Ke depan, eksibisi ini akan kembali menyapa publik di Lapangan Atletik Unesa dan Kota Lama Surabaya. 

Konsistensi ini diyakini sebagai taktik jitu untuk mengukuhkan posisi produk lokal di pasar domestik. Dalam jangka pendek, acara ini membuka ruang penjualan dan pelebaran jaringan bagi UMKM.

Sementara untuk jangka menengah, pemerintah menargetkan kopi Jawa Timur merajai kandang sendiri—menjadi suguhan wajib di warung kopi, kafe, hingga hotel berbintang. 

“Harapan panjangnya jelas: kesejahteraan pelaku UMKM meningkat dan produk kopi kita jadi pilihan utama," tegas Ali.

Berkaca pada edisi sebelumnya, kopi konsisten menjadi primadona, disusul produk makanan ringan dan olahan lokal. Disbudpar Jawa Timur juga terus membuka pintu bagi pelaku usaha lain untuk ikut serta dalam pameran berikutnya lewat proses kurasi.

Baca Juga: Festival UMKM Surabaya Dorong Ekonomi Kreatif Jawa Timur

Upaya pemerintah ini diamini oleh para peserta. Nicco, pemilik jenama Medicoffeelab Surabaya, menilai ajang semacam ini memberi panggung nyata bagi pelaku UMKM. 

"Harapan kami, usaha kecil bisa perlahan naik kelas menjadi usaha menengah, atau bahkan lebih besar," ucapnya.

Menyasar pasar penyeduh kopi manual (home brewer), Medicoffeelab tak cuma menjual biji kopi sangrai, tetapi juga mengelola kedai di kawasan Rungkut Menanggal Harapan. 

Di pameran ini, Nicco meracik perpaduan (blend) unik yang mengawinkan biji kopi asal Dampit dan Ijen dengan kopi Sumatra Barat demi memunculkan dimensi rasa yang kompleks.

"Kami ingin membuktikan potensi besar kopi Jawa Timur lewat racikan silang yang menghasilkan cita rasa menarik bagi penikmat kopi," tuturnya.

Di tengah melesatnya tren industri kopi nasional, festival ini diharapkan menjadi jangkar strategis. Bukan saja untuk merengkuh pasar yang lebih masif, melainkan memantapkan UMKM sebagai motor sejati penggerak ekonomi daerah. (*)

Berita Terbaru

Cerita Kita,

Sinergi Membangun Negeri

Oleh: HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, penulis buku Prabowo untuk Indonesia Raya Petang ini Kita kaget bukan main, ada berita liar tersebar: POLRI vs