Chongqing memperlihatkan wajah China modern tanpa meninggalkan jejak sejarahnya

Chongqing, Kota Masa Depan China

sanubari.co.id
Alan Christian Singkali, Sekum DPP GAMKI

Catatan: Alan Christian Singkali, sekretaris umum (Sekum) DPP GAMKI

KALAU Luzhou dikenal sebagai “kota arak Tiongkok”, tetangganya yang satu ini punya julukan yang jauh lebih futuristik: kota dari masa depan. Kota itu adalah Chongqing.

Baca juga: GAMKI Antarkan Penerima Beasiswa ke Sichuan Vocational College of Chemical Technology

Dulu Luzhou dan Chongqing sama-sama bagian dari Provinsi Sichuan, tapi Chongqing melesat jauh —sekarang statusnya munisipalitas langsung di bawah pemerintah pusat, setara dengan induk provinsinya sendiri. 

Cuma ada empat kota di China yang punya status setinggi ini. Coba tanya AI manapun, “kota apa yang paling besar di Tiongkok?” Saya yakin jawabannya Chongqing.

Alasannya sederhana: populasinya lebih dari 30 juta jiwa, menjadikannya salah satu pusat industri dan ekonomi terbesar di negara itu, mulai dari otomotif sampai elektronik.

Kuil Tua di Tengah Hutan Gedung Pencakar Langit

Yang bikin Chongqing menarik, kota ini nggak cuma pamer teknologi. Di tengah gemerlap gedung-gedung tinggi, berdiri Kuil Louhan. 

Usianya sudah hampir seribu tahun —pertama dibangun sekitar 1064–1067 pada masa Dinasti Song Utara, sempat direnovasi pada 1752, lalu dibom saat Perang Dunia II dan dibangun ulang pada 1945. 

Sekarang isinya ratusan patung Arhat, dan jadi oase yang tenang di tengah hiruk-pikuk kota. Nggak jauh dari situ, ada juga Monumen Pembebasan Rakyat (Jiefangbei), saksi sejarah perang melawan Jepang. 

Awalnya cuma menara kayu sederhana yang dibuka tahun 1940 untuk menyemangati rakyat, hancur kena bom, lalu dibangun ulang jadi monumen kemenangan pada 1946–1947. 

Setelah Republik Rakyat China berdiri, namanya diganti jadi Monumen Pembebasan pada 1950. Sekarang area sekitarnya berubah jadi pusat perbelanjaan paling ramai di Chongqing.

Kereta yang Nembus Gedung

Ini bagian favorit saya. Setiap lima menit sekali, kereta monorel keluar-masuk dari Stasiun Liziba —tapi bukan lewat rel di tanah, melainkan menembus langsung lantai 6 sampai 8 sebuah gedung apartemen 19 lantai. 

Baca juga: Koperasi Desa Merah Putih: Antara Hatta, Sumitro, dan Menuju Welfare State

Serius, keretanya benar-benar "menghilang" ke dalam bangunan. Stasiun ini sudah beroperasi sejak 2005 dan sekarang jadi salah satu spot paling difoto di seluruh China.

Dari sana, kalau menoleh ke arah lain, kamu akan lihat Sungai Jialing mengalir tepat di bawah.

Sedikit ke hilir, sungai ini bertemu dengan Sungai Yangtze di kawasan Chaotianmen —pertemuan dua sungai raksasa yang membentuk identitas kota ini sebagai "kota 8D", kota berlapis-lapis yang dibangun di atas tebing dan pegunungan.

Nggak jauh dari situ juga ada deretan hostel vintage yang berdiri di sisi tebing —jangan kaget kalau kamu susah nebak mana lantai satu dan mana lantai belasan, soalnya bangunannya mengikuti kontur tebing, bukan tanah datar.

Soal Rasa, Jangan Ditanya

Chongqing itu identik dengan segala sesuatu yang pedas menyala. Hotpot-nya begitu legendaris sampai ada cabang "Hotpot Chongqing" buka di Jakarta.

Selain hotpot, kota ini juga surganya mi —hampir semua jenis olahan noodle ada di sini. Di banyak restoran, baijiu dan maotai jadi teman minum yang setia menemani makan malam yang penuh cabai dan rempah "empat tungku" khas Tiongkok.

Baca juga: Dari Volksküchen ke MBG: Gizi, Generasi, dan Kedaulatan Bangsa

Orang Chongqing: Keras di Luar, Terbuka di Dalam

Secara sosial, orang Chongqing dikenal punya cara pikir yang lebih bebas dibanding daerah lain di Tiongkok, makanya kota ini relatif lebih terbuka menerima turis dan pendatang asing. Tapi jangan salah paham — ini bukan berarti ada potensi memberontak ke pusat. 

Cuma logat bicara mereka yang keras kadang bikin orang salah sangka, meski masih kalah "galak" dibanding logat Kanton di Hong Kong.

Ada juga cerita masa lalu yang masih melekat: banyak kelompok nasionalis Kuomintang yang akhirnya kabur ke Taiwan berasal dari daerah ini.

Sampai sekarang, kadang orang Chongqing masih suka digodain sebagai "anak cucu Jenderal Chiang Kai-shek" — becandaan getir dari sejarah panjang kota ini.

Terlepas dari masa lalunya yang penuh gejolak, satu hal yang pasti: Chongqing sudah memberi kontribusi besar bagi wajah China modern yang kita kenal sekarang — perpaduan unik antara teknologi yang terus melesat dan kebijaksanaan tradisional yang tetap dijaga. (*)

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru