Perjalanan panjang di China

Selamat Tinggal Shanghai, Halo Fuzhou

Reporter : Alan Christian Singkali
Sekum DPP GAMKI Alan Christian Singkali saat menikmati keindahan malam kota Shanghai, China.

Catatan: Alan Christian Singkali, sekretaris umum (Sekum) DPP GAMKI dan direktur Sanubari.co.id 

PAGI itu kami berkemas dan siap meninggalkan Shanghai menuju Fuzhou, provinsi Fujian. Tapi sebelum koper benar-benar tertutup, rasanya perlu berhenti sejenak—Shanghai bukan sekadar titik transit, kota ini penuh kenangan. Kami berada di Shanghai sejak 11 September 2026.

Baca juga: Anak-Anak Kita Tidak Bisa Menunggu: Membela MBG di Tengah Amarah yang Beralasan

Provinsi itu berada di wilayah pesisir tenggara Republik Rakyat Tiongkok. Jarak kedua kota ini sekitar 780 kilometer. Jika menggunakan jalur darat, memakan waktu sekitar 9 jam. Waktu yang sangat lama bagi kami yang memiliki waktu terbatas di China. Kalau naik kereta cepat, hanya sekitar 3 jam 40 menit.

Tapi, kami tidak mau pakai transportasi darat. Kami menggunakan transportasi udara: pesawat. Penerbangan kami malam nanti. Berangkat dari Chongqing. Kota ini sekitar 3 jam dari Shanghai.

Sejak pagi tadi, berat rasanya meninggalkan kota yang berada di muara Sungai Yangtze ini. Koper saya belum benar-benar tertutup. Di benak saya, rasanya perlu berhenti sejenak. Kota ini penuh kenangan. Bukan sekadar titik transit.

Melayang di Atas Rel

Salah satu pengalaman yang tak terlupakan justru terjadi sebelum kaki menginjak jalanan kota: naik kereta Maglev dari Bandara Pudong menuju Stasiun Longyang Road.

Jarak 30 kilometer itu ditempuh hanya dalam 8 menit, dengan kecepatan yang bisa menembus 430 km/jam—salah satu kereta maglev komersial tercepat di dunia.

Rasanya seperti melayang di atas rel, nyaris tanpa guncangan, sementara pemandangan di luar jendela berubah kabur karena saking cepatnya. Dari Longyang Road, tinggal jalan sebentar menuju hotel tempat kami menginap, Hidden Hotel.

Sedikit soal cara kerjanya: kereta ini tidak menyentuh rel sama sekali, melainkan melayang beberapa milimeter di atasnya lewat gaya elektromagnetik, lalu didorong maju oleh medan magnet yang terus berganti arah di sepanjang jalur.

Karena tanpa gesekan roda dan rel, getaran nyaris tak terasa meski kecepatannya sudah ratusan kilometer per jam.

Teknologinya sendiri hasil kerja sama Jerman-Tiongkok (Transrapid), dan jalur di Shanghai ini jadi yang pertama beroperasi secara komersial di dunia sejak 2003.

Sekilas Tentang Shanghai

Monumen

Shanghai adalah salah satu dari empat munisipalitas Tiongkok yang statusnya setingkat provinsi dan langsung berada di bawah pemerintah pusat (tiga lainnya: Beijing, Tianjin, dan Chongqing).

Dengan populasi sekitar 24-25 juta jiwa, kota ini adalah kota terpadat di Tiongkok sekaligus salah satu yang terpadat di dunia.

Secara geografis, Shanghai duduk di muara Sungai Yangtze, sungai terpanjang di Asia. Kota ini terbelah dua oleh Sungai Huangpu: sisi barat adalah Puxi, kawasan lama dengan bangunan-bangunan bersejarah dan Bund yang legendaris.

Sisi timur adalah Pudong, distrik modern berisi hutan gedung pencakar langit termasuk Shanghai World Financial Center dan Shanghai Tower.

Julukannya pun beragam—ada yang menyebutnya "Mutiara dari Timur" (Pearl of the Orient), ada juga yang menjulukinya "Paris dari Timur".

Menara yang Bercerita Tentang Uang

Kunjungan pertama saya ke kota ini adalah tahun 2018, bersama rombongan PP GMKI 2016-2018 yang saat itu berjumlah 19 orang.

Baca juga: Chongqing, Kota Masa Depan China

Salah satu agenda kami waktu itu adalah naik ke Shanghai World Financial Center, salah satu menara tertinggi di Pudong yang bentuknya khas—ada "lubang" segitiga besar di puncaknya yang bikin orang lokal menjulukinya "pembuka botol".

Namanya sendiri sudah cukup menjelaskan identitas kota ini: Shanghai adalah jantung bisnis dan keuangan Tiongkok.

Shanghai Stock Exchange yang berbasis di sini memang salah satu bursa efek terbesar di dunia, jadi wajar kalau langit Pudong dipenuhi gedung-gedung pencakar langit yang seolah berlomba siapa paling tinggi.

Kota Layar Lebar

Selain uang, Shanghai juga jadi panggung budaya populer Mandarin—bersanding dengan Hong Kong sebagai kiblat sinema. Tak heran banyak film, dari yang klasik era 1930-an sampai produksi modern, mengambil latar kota ini.

Auranya memang sinematik: lampu neon di sepanjang Bund, gedung-gedung art deco tua yang berdampingan dengan pencakar langit kaca.

Salah satu jejak sejarah yang masih berdiri kokoh adalah bangunan tua milik Shanghai Rowing Club, klub dayung yang berdiri sejak pertengahan abad ke-19.

Bangunannya berada di tepi Suzhou Creek, tak jauh dari muara sungai itu ke Sungai Huangpu—bukan Sungai Yangtze seperti yang sempat saya kira.

Meski begitu, sungai kecil ini tetap jadi saksi bisu perjalanan panjang kota pelabuhan yang dulu jadi pintu gerbang orang asing masuk ke Tiongkok.

Mampir Kampus Dulu, Baru Jalan-Jalan

Sebelum benar-benar menikmati Shanghai sebagai turis, ada agenda yang lebih serius: kunjungan ke kampus Changzhou Vocational Institute of Technology Industry.

Baca juga: GAMKI Antarkan Penerima Beasiswa ke Sichuan Vocational College of Chemical Technology

Baru setelah agenda kampus rampung, kami memberi waktu untuk jalan-jalan keliling Shanghai—melepas penat sambil menikmati kota dari sudut yang lebih santai.

Dua Malam yang Ramai

Dua malam saya berada di Shanghai. Terasa cukup padat. Kebetulan, saat kedatangan kami ada festival berlangsung di kawasan tepi sungai. Beberapa ruas jalan ditutup. 

Hal itu dilakukan demi menjaga keamanan dan kenyamanan para pejalan kaki—pemandangan yang justru menambah semarak, meski bikin rute jalan kaki jadi sedikit memutar. Capek. Tapi, semua itu terbayarkan dengan suasana di kota itu. Dibayar lunas.

Bahasa Inggris yang Mengalir

Satu hal yang bikin nyaman: Shanghai cukup fasih berbahasa Inggris. Sehingga, saya tidak perlu repot menggunakan aplikasi penerjemah. Atau bahkan menggunakan bahasa tubuh seperti orang bisu. 

Wajar jika masyarakat di sana fasih menggunakan bahasa Inggris. Sebab kota ini sudah membuka diri sebagai gerbang utama Mainland China sejak ratusan tahun lalu (dibuka sebagai treaty port sejak 1843). 

Manis, Seafood, dan Baijiu

Dan tentu saja, soal makanan—kuliner Shanghai punya ciri khasnya sendiri: rasanya cenderung manis, dengan seafood sebagai bintang utama di banyak hidangan.

Apa pun menunya, rasanya selalu ada satu teman setia di meja makan: Baijiu, arak khas Tiongkok yang menemani hampir setiap sajian.

Sampai jumpa lagi, Shanghai. Sekarang saatnya melanjutkan perjalanan ke Fuzhou. (*)

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru