Industrialisasi bersama diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang

Usulan Industrialisasi Bersama Prabowo di KTT BRICS Direspons Positif China

Reporter : Robby
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun. (X @globaltimesnews)

Beijing, sanubari.co.id Pemerintah China menyambut positif usulan Indonesia mengenai kolaborasi rantai pasok dan industrialisasi bersama di antara negara-negara anggota BRICS. Hal ini disampaikan menyusul pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada sesi kedua KTT ke-18 BRICS di New Delhi, India, Minggu, 13 September 2026, lalu.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan kesiapan Beijing untuk memperdalam kerja sama industri dengan seluruh anggota BRICS. Pernyataan itu disampaikannya dalam konferensi pers di Beijing, China, 14 September 2026.

"China akan memperkuat kerja sama teknologi dengan negara-negara BRICS, memperdalam penyelarasan industri, melaksanakan proyek-proyek peningkatan kapasitas, serta mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan dengan kualitas yang lebih tinggi dan ketahanan yang lebih kuat," kata Guo Jiakun.

Ia menambahkan bahwa BRICS selama ini telah aktif mendorong kerja sama di bidang industrialisasi.

"Hal itu dibuktikan dengan pembentukan Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru dan Pusat Kompetensi Industri BRICS," ujarnya, seraya menyebut sejumlah hasil nyata telah dicapai dari inisiatif tersebut.

Sebelumnya, dalam pidatonya di New Delhi, Prabowo mengajak negara-negara anggota BRICS memperkuat kolaborasi industrialisasi dan rantai pasok global guna menghadapi berbagai tantangan sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang. Ia menawarkan gagasan konkret kepada forum tersebut.

"Biarkan kita industrialisasi bersama-sama dan biarkan kita mengoptimalkan sumber dan kapasitas yang kita tanggung bersama-sama," ujar Prabowo.

Prabowo menjelaskan, Indonesia memiliki sejumlah modal pembangunan yang dapat dikontribusikan ke rantai nilai global BRICS, mulai dari mineral kritis, logam tanah jarang, hingga sumber energi terbarukan. Menurutnya, BRICS memiliki sumber daya dan kekuatan ekonomi yang saling melengkapi antaranggota, sehingga berpotensi memperkuat posisi blok tersebut dalam rantai nilai global.

KTT BRICS ke-18 tersebut mengangkat empat pilar utama, yakni ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan, dalam merespons berbagai tantangan global termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik.

Pertemuan itu dihadiri sejumlah kepala negara, di antaranya Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, serta Perdana Menteri India Narendra Modi selaku tuan rumah.Brasil diwakili Menteri Luar Negeri Mauro Vieira, sementara Arab Saudi diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.

Saat ini, BRICS beranggotakan 11 negara dan telah merangkul sejumlah negara mitra, termasuk Malaysia dan Vietnam. Kelompok ini diperkirakan menguasai sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto global, serta 26 persen porsi perdagangan dunia.

Editor : Robby

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru