Pemerintah Indonesia tetap tidak akan menaikan harga bahan bakar

Pipa Minyak Arab Saudi Diserang Drone, Harga Minyak Dunia Melonjak

avatar Robby
Foto udara saluran pipa minyak Arab Saudi yang terkena serangan drone. (Vantor/Getty Image)
Foto udara saluran pipa minyak Arab Saudi yang terkena serangan drone. (Vantor/Getty Image)

Jakarta, sanubari.co.id Harga minyak mentah dunia kembali mencatat lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kenaikan ini dipicu oleh serangkaian serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi serta insiden di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Berdasarkan data yang dilansir Reuters, harga minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan 14 September 2026. Menembus level 107,51 dolar AS per barel — naik 2,90 dolar AS dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, harga di West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,27 dolar AS atau 2,27 persen menjadi 102,32 dolar AS per barel.

Pada sesi perdagangan Selasa pagi (15/9/2026) WIB, harga sempat mendekati level 110 dolar AS sebelum sedikit terkoreksi ke kisaran 105,68 dolar AS untuk Brent dan 101,39 dolar AS untuk WTI.

Lonjakan harga ini melanjutkan tren kenaikan sekitar 8–9 persen sepanjang pekan lalu, dan menandai kali pertama harga minyak menembus level 100 dolar AS per barel sejak Juli 2026.

Menanggapi kenaikan harga minyak dunia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah terus memantau dinamika harga minyak dunia bersama Kementerian Keuangan atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Meski harga minyak global melonjak tajam, ia memastikan harga BBM bersubsidi di dalam negeri tidak akan terpengaruh. 

"Berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan," tegas Bahlil saat ditemui awak media di Jakarta pada 14 September 2026.

Adapun pemicu utama kenaikan adalah penutupan sementara jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi sepanjang 1.200 kilometer, setelah fasilitas vital tersebut diserang oleh pesawat nirawak (drone) pada 10 September 2026 di wilayah Riyadh dan Madinah. Jalur pipa ini selama ini menjadi rute alternatif ekspor minyak Arab Saudi agar tidak bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz. Kekhawatiran pasar semakin bertambah setelah kelompok Houthi dilaporkan menguasai Pulau Perim di mulut Selat Bab el-Mandeb, jalur yang menjadi lintasan sekitar 4–5 persen pasokan minyak global.

Kondisi diperparah oleh insiden di Selat Hormuz, di mana sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil hingga terbakar dan memaksa evakuasi seluruh awak.

Menanggapi situasi ini, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan sikap resminya. Dikutip dari Reuters, kementerian tersebut menyatakan negaranya "berhak mengambil segala langkah yang diperlukan" untuk melindungi kepentingan nasional dari ancaman serangan lintas batas.

Para analis memperingatkan bahwa harga minyak berisiko terus naik apabila upaya diplomasi antara negara-negara Teluk dan Iran, yang sempat dijadwalkan berlangsung di Oman, tidak segera membuahkan hasil konkret. Pelaku pasar kini memantau ketat perkembangan di Riyadh maupun Sanaa, mengingat Arab Saudi merupakan eksportir minyak terbesar dunia. Setiap gangguan pasokan dari negara tersebut berpotensi memberi dampak luas terhadap harga energi global, termasuk harga bahan bakar di Indonesia.

Berita Terbaru