Catatan: Alan Christian Singkali, sekretaris umum GAMKI
PAGI sampai jelang siang kemarin habis dipakai muter-muter Fuqing. Perjalanan itu dilakukan dari Yuanhong Investment Zone, Yuguan Food, sampai Huagang Group.
Baca Juga: Menatap Harapan Menteri Keuangan yang Baru: Refleksi Reshuffle di Balik Telepon
Siangnya, rombongan pindah "medan perang" ke Fuzhou. Alurnya: makan, ngeteh sambil ngobrol santai, lanjut mini conference, terus kunjungan lagi sampai sore menjelang malam.
Makan Siang Dulu, Baru Lanju Visit
Sesi siang dibuka dengan makan siang bareng Huang Xuexun, Anggota Kelompok Kepemimpinan Partai sekaligus Wakil Direktur Biro Perdagangan Kota Fuzhou.
Di meja makan begini biasanya obrolan formal justru mencair, jadi pas buat pemanasan sebelum sesi-sesi yang lebih resmi.
Ngeteh santai di kantor Biro Perdagangan
Selesai makan, rombongan bergeser ke kantor Biro Perdagangan Kota Fuzhou, lokasinya nempel sama kawasan Fuzhou Free Trade Zone — tepatnya di area Silk Road E-Commerce Integrated Service Base dan Minjiang International Services Center.
Di sana, sambutannya kental nuansa Tiongkok: dijamu minum teh dengan tata cara tradisional oleh Chen Zhengxun, akrab disapa Nick — pejabat dengan posisi setara Huang Xuexun tadi.
Bukan obrolan formal berat-berat, tapi lebih ke ngobrol santai sambil menikmati teh —momen buat saling kenal lebih dekat sebelum masuk agenda inti.
Mini conference: dari musim gugur Rongcheng sampai strategi pasar Indonesia
Dari suasana santai, agenda berlanjut ke seminar bertajuk "Memanfaatkan Keuntungan ASEAN dan Menata Strategi di Pasar Indonesia".
Nick membuka sambutannya dengan hangat, menyebut kehormatan bisa menjamu delegasi Pemerintah dan dunia usaha Kabupaten Morowali Utara di tengah musim gugur Fuzhou yang sedang indah-indahnya.
Inti pidatonya berputar pada program "Dua Taman, Dua Negara" Tiongkok–Indonesia — proyek kerja sama yang jadi salah satu jalur utama Fuzhou untuk lebih terhubung dengan Belt and Road Initiative dan pasar ASEAN.
Ia memaparkan bahwa sepanjang tahun ini interaksi dagang kedua negara makin intens: mulai dari pertemuan komite bersama tingkat wakil menteri di awal tahun, pelatihan program "Dua Taman, Dua Negara" yang diikuti puluhan pejabat dan pelaku industri Indonesia.
Baca Juga: Sehari di Fuqing: Menyusuri Tiga Wajah Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Tiongkok
Kunjungan dagang Wakil Gubernur Fujian ke Indonesia, sampai kegiatan promosi investasi bersama di ajang CIFIT Xiamen pekan sebelumnya.
Nick juga jujur soal tantangan yang masih dihadapi perusahaan Fuzhou yang mau ekspansi ke Indonesia — mulai dari minimnya pemahaman regulasi setempat, sulitnya mengelola risiko kepatuhan lintas negara, sampai terbatasnya akses ke jaringan industri. Dari situ ia menyampaikan tiga saran utama:
- Manfaatkan platform layanan terpadu — seperti Pelabuhan Layanan Terpadu Fujian untuk perusahaan yang berekspansi ke luar negeri, mencakup riset pasar, penghubungan proyek, hingga interpretasi kebijakan, dan akan terus digarap bersama lembaga seperti Chindo Business Center.
- Jaga kepatuhan dan lokalisasi operasional — memahami aturan setempat soal investasi, pajak, ketenagakerjaan, sekaligus menghormati adat dan tradisi lokal supaya bisnis bisa bertahan jangka panjang.
- Perkuat sinergi dua arah pemerintah–dunia usaha — menjadikan kunjungan semacam ini sebagai jembatan nyata untuk mempertemukan proyek dengan mitra yang tepat.
Sesi ini ditutup dengan seremoni business matching. Giliran pihak Indonesia yang tampil — Pemkab Morowali Utara dan Tim Youth Economic Fellowship Indonesia (YEFI) 2026 lewat Riky Boy Simarmata membawakan presentasi, mempertemukan minat investasi dari kedua sisi secara langsung.
Ditutup dengan mampir ke kantor CBC
Menjelang sore ke malam, rombongan masih menyempatkan diri mampir ke kantor Chindo Business Center (CBC) — kebetulan berada di gedung yang sama dengan kantor Biro Perdagangan tadi, jadi tinggal geser lantai atau ruangan saja. Di sana disambut oleh Leona dan tim CBC.
CBC sendiri adalah perusahaan Indonesia pertama yang secara khusus menyediakan layanan sumber daya manusia dan solusi ketenagakerjaan korporat bagi perusahaan-perusahaan asal Tiongkok yang beroperasi di Indonesia.
Perusahaan ini menawarkan platform layanan satu pintu yang komprehensif, mencakup pendirian dan pendaftaran perusahaan, konsultasi keuangan, jasa keagenan visa, hingga konsultasi hukum.
Baca Juga: Selamat Tinggal Shanghai, Halo Fuzhou
CBC didirikan untuk mendukung pengembangan Belt and Road Initiative dan menjawab tantangan yang dihadapi perusahaan Tiongkok saat berekspansi ke Indonesia, berkomitmen membangun jembatan antara pemerintah dan mitra bisnis Indonesia-Tiongkok lewat platform yang terbuka dan satu pintu.
Berdasarkan materi promosi resminya, CBC memposisikan diri sebagai "Solusi Satu Pintu untuk Ekspansi Bisnis ke Indonesia", dengan lini layanan mencakup riset pasar, legal, pajak & keuangan, sumber daya manusia, hingga pendidikan.
Ada pula unit khusus di bidang edukasi ("China Edu by Chindo Business Center") yang fokus membantu urusan beasiswa, admisi, dan visa pelajar antara Indonesia dan Tiongkok.
Kantor pusat CBC berlokasi di Jakarta Pusat, dengan jaringan yang menjangkau puluhan hingga ratusan karyawan.
Kehadiran di Fuzhou yang memudahkan koordinasi langsung dengan otoritas dagang setempat sekaligus melayani perusahaan Tiongkok yang berminat ekspansi ke Indonesia.
Dari pagi eksplorasi lapangan di Fuqing sampai siang-sore ngeteh, seminar kebijakan, dan ngobrol bisnis di Fuzhou, hari ini jadi contoh bagus gimana satu hari kunjungan bisa merangkum tiga sisi sekaligus: teknis-lapangan, diplomatik-kebijakan, dan bisnis langsung ke pelaku usahanya. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob