Katz: Waspada, Ambisi Nuklir Iran Belum Padam

avatar Robby
Israel Katz. (Anadolu Agency)
Israel Katz. (Anadolu Agency)

Yerusalem, sanubari.co.id – Tiga fasilitas nuklir utama Iran memang sudah lumpuh akibat serangan, tetapi Israel menilai ancaman dari program nuklir Teheran belum benar-benar berakhir.

Pada Juni 2025, Israel dan Amerika Serikat telah melancarkan serangan gabungan yang merusak parah pusat pengayaan uranium Fordow, fasilitas nuklir Natanz, dan pusat teknologi nuklir Isfahan. Pada akhir Februari 2026, serangan kembali menyasar Natanz dan Isfahan. Dua bulan kemudian, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa citra satelit memperlihatkan kerusakan yang sangat luas di kedua lokasi tersebut.

Meski begitu, Menteri Pertahanan Israel Katz meyakini kerusakan itu tidak serta-merta menghentikan ambisi Iran memiliki senjata nuklir.

"Mengenai Iran, misi ini masih belum selesai," ujarnya dalam sebuah upacara peringatan di Gunung Herzl.

Katz meminta militer Israel bersikap proaktif melindungi warga, sementara masyarakat diajak mengesampingkan perbedaan politik demi keamanan nasional.

Ia juga mengingatkan ancaman dari Hizbullah. Menurut Katz, militer Israel akan tetap mempertahankan zona aman di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Ia pun menjanjikan pembalasan keras jika Hizbullah kembali menyerang Israel.

Kewaspadaan Katz punya dasar yang kuat. Di ketiga situs yang lumpuh itu, tidak ditemukan jejak uranium. Banyak pihak meyakini bahan tersebut sudah dipindahkan sebelum serangan terjadi. Pertanyaannya kini: di mana uranium itu berada, dan berapa jumlahnya?

Pertanyaan ini semakin mengemuka karena IAEA mengaku belum memperoleh informasi maupun akses untuk memverifikasi material nuklir Iran, termasuk sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya. Saat ini inspektur IAEA memang tengah melakukan verifikasi di pembangkit listrik Bushehr, tetapi inspeksi rutin di lokasi lain belum dilanjutkan. Tanpa akses tersebut, sulit memastikan seberapa besar kemampuan nuklir Iran yang masih tersisa.

Sementara itu, jalur diplomasi terus berjalan. Qatar bertindak sebagai mediator dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Washington menuntut informasi dan akses inspeksi, sedangkan Teheran meminta ganti rugi atas kerusakan di tiga situs nuklirnya. Kedua tuntutan itu saling bertolak belakang, dan perundingan hingga kini masih berlangsung.

Berita Terbaru

Cerita Kita,

Bengawan Solo di Suriname

Saat mengikuti ibadah minggu pagi 1 November 2026 di Gereja Jawa & Belanda (Javanese and Dutch Church) jemaat Doeta Watjana di Paramaribo Suriname, salah satu