Otak Pencurian Solar Tetap Dipekerjakan

Hidup Hancur Setelah Dipecat karena Solar: Kisah Pilu Pekerja DLH Bontang dan Jeritan Sang Istri

avatar Robby
Abdul Gafur (kiri) bersama istrinya Desi Isnawati (kanan) saat menunjukkan surat pemecatannya, Senin 29 September 2025.
Abdul Gafur (kiri) bersama istrinya Desi Isnawati (kanan) saat menunjukkan surat pemecatannya, Senin 29 September 2025.

BONTANG, sanubari.co.id - Desi Isnawati duduk hanya termenung di ruang tamu kontrakannya, di kawasan Tanjung Laut, Bontang Selatan. Tatapannya kosong. Di sampingnya, ada seorang remaja sedang asik bermain handphone genggamnya. Suasana rumahnya sangat hening.

Pikiran ibu tiga anak itu lagi kacau balau. Suaminya: Abdul Gafur baru saja kehilangan pekerjaannya. Ia dipecat karena tuduhan pencurian solar di dozer tempat kerjanya. Pria 48 tahun itu bekerja sebagai pekerja harian lepas di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang. Ia bagian pengomposan.

Baca Juga: UPT TPA Bontang Ungkap Alasan Hanya Gafur yang Dipecat dalam Kasus Solar

“Saya bingung mas. Mau makan apa saya. Harapan kami keluarga hanya suami saya. Sekarang ia sudah tidak bekerja lagi. Sudah dipecat. Sekarang, saya hanya butuh keadilan saja. Suami saya tidak salah,” katanya kepada sanubari.co.id, Senin 29 September 2025.

Sangking berat beban hidup yang dipikul, sehari setelah Gafur dipecat, ia jatuh sakit. Kondisi ini semakin memperburuk situasi. Terpaksa, Desi harus berjuang sendiri dalam mencari keadilan bagi suaminya. Harapannya, ada kesempatan kedua. Gafur bisa kembali kerja.

“Saya merasa ini tidak adil. Suami saya hanya disuruh. Teman kerjanya yang menyuruh suami saya malah hanya dapat surat peringatan (SP). Sementara suami saya langsung dipecat. Aktor utama dalam pencurian solar itu sekarang lagi bahagia di atas penderitaan saya,” katanya lagi.

Teman kerja Gafur yang menjadi otak dari pencurian solar itu adalah Bambang. Gafur terpaksa mengikuti perintah Bambang. Karena, kalau permintaan itu ditolak, Bambang bakal marah. Terpaksa Gafur mengikuti perintah tersebut.

Gofur menceritakan, awalnya ia sedang duduk santai di tempat kerjanya. Pekerjaannya sudah selesai. Tiba-tiba, Bambang datang. Ia meminta dirinya untuk mengambil solar di dozer di TPA Bontang Lestari. Keduanya memang bertugas di sana. Awalnya Gafur tidak mau. Tetapi Bambang terus memaksa.

“Perasaan saya sudah tidak enak sebenarnya sejak awal. Nah, saya terus dipaksa. Bilangnya aman. Saya juga tidak pegang kunci alat berat itu. Bambang yang berikan. Karena, dia yang selama ini pegang kunci alat berat itu. Saya kan di bagian kompos. Jadi, saya tidak ada urusan dengan Dozer,” ungkapnya.

Aksinya itu sudah dilakukan selama dua bulan. Dalam satu Minggu, sekali mereka beraksi. Tugas Gafur hanya mengambil solar tersebut. Setelah solar itu diambil, langsung diletakkan di semak-semak. Dalam sekali aksi mereka, selalu mengambil sebanyak 60 liter solar.

“Setelah sudah di semak-semak, solar itu saya tinggalkan. Saya cuman dikasih Rp 150 ribu sama Bambang. Habis buat makan saja. Saya gak dapat apa-apa dari penjualan solar itu. Saya juga sering banget difitnah oleh Bambang,” ucapnya.

Sampai akhirnya, aksinya tersebut terbongkar. Sayangnya, hanya dirinya saja yang dipecat. Bambang sebagai otak dari tindakan itu, tidak dipecat. Usut demi usut, ternyata Bambang ada hubungan keluarga dengan salah satu petinggi di DLH Bontang.

Ia mengungkapkan, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Yuniar pagi tadi menghadap Kepala DLH Bontang Heru Triatmojo. Sayangnya, keadilan dalam kasus itu tetap tidak ia dapatkan. Haru tidak memberikan keputusan. Keputusan itu malah diserahkan ke Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan Sampah Syakharuddin.

“Saya tidak tahu kenapa kadis malah gak bisa kasih keputusan. Kenapa harus diserahkan ke kabidnya. Kabid ini yang dulu juga pecat saya. Alasannya juga gak jelas. Karena saya dipecat dulu, anak saya sampai putus sekolah. Saya tidak mau sekarang anak saya putus sekolah karena kondisi ini,” tegasnya.

Padahal, ia sangat berharap dari pekerjaan ini. Apalagi, namanya sudah dimasukkan ke calon P3K Paruh Waktu. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengajukan semua pekerja harian lepas dinaikkan statusnya. Tetapi, dengan adanya masalah itu, harapan itu punah sudah. (*)

Berita Terbaru