Perayaan Akhir Tahun Paling Bergetar di Telaga Buntung

Ketika Telaga Buntung Bergetar dalam Nuansa Perayaan

avatar sanubari.co.id
Ilustrasi (Foto: AI)
Ilustrasi (Foto: AI)

Di Desa Telaga Buntung, sebuah permukiman yang namanya konon berasal dari insiden geologis: Danau yang tiba-tiba memutuskan untuk mengeringkan diri semalaman, demi 'liburan yang tenang'. Perayaan Natal dan Tahun Baru di sana tidak pernah sekadar tentang lampu kelap-kelip atau terompet.

-------------------------- 

Baca Juga: Festival Pusing-Pusing Nasional di Pasar Kaget Jaya

INI adalah urusan yang melibatkan seluruh jiwa raga, dan kadang, sedikit fisika kuantum yang salah tafsir. Kisah ini adalah tentang bagaimana desa kecil tersebut mencoba mencapai kemeriahan yang dalam banyak hal, melampaui ekspektasi gravitasi.

Musyawarah Lampion Petai & Penggetar Semangat Universal

“Jadi, intinya, kita butuh daya lontar optimal untuk petai yang sudah kita panggang di dalam lampion kertas daur ulang ini,” kata Kades Harjo mengetuk papan tulis yang sudah retak di balai desa, menyisakan jejak kapur yang berjatuhan seperti salju buatan. 

“Kita tidak ingin ada petai yang meleset mengenai kepala Bu Tejo lagi. Insiden tahun lalu dengan rebung isi mercon sudah cukup,” tambahnya.

Bu Tejo, yang duduk di barisan depan dengan tatapan tajam dan jilbab bermotif bunga kamboja yang anehnya terlihat seperti peta galaksi, hanya mendengus. “Itu bukan rebung, Kades. Itu adalah 'Artefak Kesuburan Bambu Abadi' yang diletakkan di sana sesuai tradisi leluhur. Lagipula, siapa yang terpikir memasukkan mercon ke dalamnya?,” ucap Bu Tejo.

Di sudut ruangan, Pak Slamet, sang penemu sekaligus filsuf desa yang rambutnya selalu terlihat seperti habis bertarung sengit dengan sisir, mengangguk-angguk. 

“Saya punya solusi untuk masalah proyektil, Kades. Sebuah sistem pegas ganda yang terkalibrasi dengan cermat. Dan lebih penting lagi, saya sudah menyempurnakan 'Penggetar Semangat Universal' saya!,” ucapnya.

Ia menunjuk ke sebuah mesin raksasa yang diletakkan di pojok balai desa. Terbuat dari panci bekas, kabel-kabel yang entah dari mana asalnya, dan dinamo sepeda motor tua, mesin itu memancarkan aura potensi kegagalan yang artistik. 

“Ini akan memancarkan gelombang vibrasi harmonis yang selaras dengan frekuensi kebahagiaan universal. Dijamin, semua orang akan merasakan semangat perayaan sampai ke sumsum tulang!,” katanya.

Bu Tejo mengernyit. “Apakah itu akan membuat gigi palsu saya bergetar lepas lagi, Slamet? Tahun lalu mesin karaoke buatanmu membuat semua kerupuk di meja bergetar jatuh ke lantai. Sebuah tragedi nasional bagi pecinta kerupuk seperti saya,” celetuknya.

Pak Slamet menggeleng penuh keyakinan. “Kali ini berbeda, Bu Tejo. Ini ilmiah. Ini adalah lompatan kuantum dalam rekayasa kebahagiaan!,” terangnya.

Proyek Penerangan & Insiden Lampion Kribo

Maka, dimulailah persiapan Pesta Cahaya dan Rebung Telaga Buntung. Tiang-tiang bambu ditegakkan untuk melontarkan lampion petai ke udara, yang rencananya akan menyala terang seperti bintang jatuh, lalu mendarat dengan lembut di piring-piring para tamu. 

Sebuah inovasi yang diharapkan memecahkan masalah pencahayaan dan hidangan pembuka secara bersamaan. Namun, rekayasa fisika dan petai ternyata memiliki dinamika yang rumit. 

Percobaan peluncuran pertama berakhir dengan lampion-lampion yang alih-alih melayang anggun, malah meledak di tengah udara seperti kembang api prematur, menyisakan serpihan kertas dan aroma petai bakar yang merata di seluruh alun-alun.

“Ini seperti hujan meteor berbau bawang putih!,” seru seorang anak kecil dengan kegirangan.

Pak Kades Harjo menghela napas. “Baik, Slamet. Sistem pegas ganda itu... apakah kita yakin tidak ada elemen 'ganda' dalam kegagalannya?,” tanya Kades Harjo.

“Itu karena angin lokal, Kades,” Slamet membela diri, sambil mengutak-atik ketapel raksasa yang ia sebut 'Pelontar Kebahagiaan Massal'. 

“Angin Telaga Buntung punya karakter unik. Ia suka memberontak terhadap hukum aerodinamika standar. Kita butuh sebuah solusi yang lebih... menggetarkan.”

Baca Juga: Sebuah Obsesi Renyah yang Terpelihara Rapi

Sementara itu, tim konsumsi, yang dipimpin oleh Bu Tejo, sedang menghadapi krisis yang lebih mendalam: kekurangan kerupuk. Entah bagaimana, dalam persiapan pesta yang begitu megah, pasokan kerupuk desa mengalami defisit parah. 

“Bagaimana mungkin kita merayakan tanpa kerupuk?" Bu Tejo hampir histeris. "Ini seperti perayaan tanpa senyum! Atau, lebih parah, perayaan tanpa cerita tentang kerupuk raksasa yang pernah dibuat kakek buyut saya!,” ucapnya.

Malam Puncak: Getaran yang Tak Terduga

Malam perayaan tiba. Alun-alun desa, yang kini hanya diterangi obor seadanya dan beberapa lampion yang berhasil mendarat tanpa insiden, sudah dipenuhi warga. Antrean panjang terbentuk di depan meja hidangan, di mana rebung dan olahan petai lain disajikan, minus kerupuk yang dirindukan.

Pak Kades Harjo naik ke panggung bambu yang sedikit bergoyang, memberikan pidato semangat. Tepat di akhir pidatonya, Pak Slamet dengan bangga mengaktifkan "Penggetar Semangat Universal" miliknya. Dengan suara dengungan rendah, mesin itu mulai bekerja.

Awalnya, tidak ada yang terjadi. Lalu, meja-meja mulai bergetar pelan. Lampu obor bergoyang seolah ditiup angin tak kasat mata. Gelas-gelas bergetar di atas meja. Lalu, lantai. Lalu, satu-persatu, warga desa mulai merasakan getaran yang menjalar dari telapak kaki, naik ke paha, perut, dan akhirnya... gigi.

“Aduh, gigiku bergetar!,” seru seorang bapak, tangannya memegang rahang. “Rasanya seperti sedang membersihkan karang gigi secara massal!”

Bukan getaran kegembiraan, melainkan getaran yang sangat nyata dan, terus terang, sedikit menggelikan. Kerupuk yang entah bagaimana berhasil ditemukan Bu Tejo di menit-menit terakhir, diletakkan di atas meja, kini menari-nari kecil di atas piringnya, menghasilkan suara gemericik yang aneh.

“Saya bilang kan!,” Bu Tejo berseru di tengah dentingan gigi yang bergetar. “Kerupuk saya lagi-lagi jadi korban!”

Namun, anehnya, tidak ada yang marah. Setelah beberapa saat, seorang anak mulai tertawa. Kemudian yang lain. 

Baca Juga: Harmoni Kentang dan Kopi yang Hampir Punah

Ternyata, getaran itu, meskipun tidak membangkitkan 'semangat universal' seperti yang dibayangkan Pak Slamet, justru menciptakan suasana komedi yang tak terduga. 

Orang-orang mulai mencoba berbicara dengan gigi bergetar, menghasilkan suara-suara lucu. Beberapa bahkan menggunakan getaran itu untuk mengocok minuman mereka atau membuat kacang yang sudah diremukkan bergerak seperti balapan mini.

Kemeriahan yang Bergetar Hebat

Pesta Natal dan Tahun Baru di Desa Telaga Buntung memang meriah, tapi dengan cara yang hanya bisa ditemukan di Telaga Buntung. Lampion petai mungkin gagal menjadi bintang jatuh, tetapi aroma uniknya menjadi parfum khas perayaan. 

Dan "Penggetar Semangat Universal" Pak Slamet, meskipun tidak menghasilkan euforia spiritual, berhasil menciptakan tawa kolektif dan pengalaman sensorik yang tak terlupakan.

Pak Kades Harjo, dengan gigi yang masih sedikit bergetar, tersenyum bangga. "Kita mungkin tidak punya kembang api setinggi langit, atau kerupuk yang aman dari getaran," katanya kepada Bu Tejo, yang sedang berusaha menghentikan kerupuknya menari-nari di piring. 

“Tapi kita punya cerita. Dan tawa. Dan getaran yang akan kita ingat sampai tahun depan!”

Bu Tejo menghela napas, menyerah pada nasib krupuknya yang bergetar. "Setidaknya," katanya, dengan nada yang anehnya menjadi optimis, "Tidak ada rebung isi mercon tahun ini."

Pak Slamet, di sudut ruangan, hanya mengamati mesinnya dengan pandangan puas. Mungkin, ia berpikir, kebahagiaan universal tidak harus selalu dirasakan secara pasif. 

Kadang, ia harus dirasakan melalui getaran yang mengguncang setiap sendi kehidupan, dan setiap remah kerupuk. (*)

Berita Terbaru