KENDARI, sanubari.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa silaturahmi dengan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) asal Jawa Timur. Pertemuan itu dilakukan dalam forum Penguatan Pasar Antardaerah di Hotel Plaza Inn Kendari, Selasa, 18 November 2024.
Pertemuan yang berlangsung hangat itu mempertemukan pelaku usaha, tokoh masyarakat, paguyuban Jatim, dan warga perantau yang berkiprah di berbagai sektor strategis di provinsi tersebut.
Baca Juga: Pasar Murah Khofifah Diserbu Emak-Emak di Benowo
Khofifah mengatakan, diaspora Jawa Timur tidak hanya berkontribusi pada aktivitas ekonomi, tetapi juga berperan sebagai simpul penghubung yang membangun kepercayaan, komunikasi, dan jejaring antar pelaku usaha.
“Panjenengan semua adalah kekuatan diaspora yang mempertemukan dua daerah. Peran panjenengan dalam membangun kohesivitas sosial dan komunikasi menjadi fondasi kuat dalam memperluas jejaring ekonomi nasional,” katanya dalam rilis yang diterima sanubari.co.id, Rabu, 19 November 2025.
Karakter guyub, kerja keras, dan kemampuan adaptif masyarakat Jatim telah menjadikan diaspora sebagai perekat yang memperkuat interaksi ekonomi maupun sosial. Sektor perdagangan, jasa, kuliner, perikanan, hingga agribisnis disebutnya menjadi motor penggerak ekosistem ekonomi antara Jawa Timur dan Sultra.
Khofifah memaparkan bahwa nilai perdagangan Jatim–Sultra pada 2023 mencapai Rp 3,14 triliun dengan surplus Rp 752 miliar bagi Jawa Timur. Arus komoditas berjalan dua arah, mulai dari makanan olahan, produk kreatif, hingga komoditas strategis seperti CPO, beras, dan hasil perikanan.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat menyapa warga Jatim di Sulawesi Tenggara, Selasa, 18 November 2025. (Foto: Biro Adpim Pemprov Jatim)
“Kuatnya hubungan dagang ini tidak berdiri sendiri. Ada kontribusi diaspora yang menjadi penghubung antar pelaku usaha,” katanya.
Penyiapan SDM dan Peluang Sektor Riil
Dalam forum itu, Khofifah juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM. Ia menyebut Jawa Timur memiliki enam SMA Taruna berasrama. Semua sekolah itu bekerja sama dengan TNI, Kepolisian, dan IPDN. Sekolah-sekolah tersebut disiapkan sebagai pusat pembentukan calon pemimpin masa depan.
“Sering panjenengan mendengar Indonesia Emas 2045. Pemimpinnya harus disiapkan dari sekarang. SMA Taruna kita menyiapkan itu. Ada yang diterima hingga 97 persen di sekolah kedinasan dan perguruan tinggi negeri,” tuturnya.
Baca Juga: Kunjungi TSIP, Khofifah Siapkan Strategi Replikasi Teknologi WtE di Jawa Timur
Ia meminta paguyuban Jatim di Sultra menginventarisasi minat lulusan SMP yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMA Taruna Jatim. Pendaftaran SMA Taruna Pamong Praja Bojonegoro disebutnya masih dibuka hingga Maret.
Forum tersebut juga dimanfaatkan untuk membahas potensi sektor riil di Sultra, seperti budidaya perikanan, peternakan, dan perkebunan tebu. Khofifah menilai Sultra memiliki peluang besar di sektor perikanan mengingat potensi pesisir yang luas dan tingginya kebutuhan pasar.
Jawa Timur, kata dia, siap berbagi pengalaman dan teknologi di bidang peternakan dan pertanian. Mulai dari peningkatan populasi sapi potong dan sapi perah. Hingga penguatan produktivitas tebu dengan varietas unggul yang mampu menghasilkan hingga 32,5 kilogram gula per meter tanam.
Khofifah turut menyoroti peran Koperasi Merah Putih sebagai wadah pemberdayaan UMKM diaspora Jatim di Sultra. Koperasi tersebut diharapkan menjadi kanal distribusi, akses pasar, serta penguatan usaha di tingkat desa dan kelurahan.
“Forum seperti ini bukan sekadar seremoni. Kita ingin menguatkan usaha panjenengan, menyambungkan kebutuhan Sulawesi Tenggara dengan apa yang bisa disediakan Jawa Timur, dan sebaliknya,” katanya.
Baca Juga: Khofifah Pimpin Misi Dagang Jatim ke Singapura, Transaksi Tembus Rp 4,16 Triliun
Diaspora dan Visi Gerbang Baru Nusantara
Khofifah kemudian mengaitkan kontribusi diaspora dengan visi pembangunan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Pusat gravitasi ekonomi yang menghubungkan kawasan barat, tengah, dan timur Indonesia. Diaspora, menurutnya, menjadi elemen strategis yang memperkokoh jejaring antarwilayah.
“Dengan jejaring diaspora yang kuat, Jawa Timur siap menjalankan perannya sebagai Gerbang Baru Nusantara. Dari Sulawesi Tenggara, panjenengan semua ikut menguatkan konektivitas ekonomi nasional,” ujarnya.
Khofifah menegaskan, diaspora Jawa Timur merupakan aset bangsa yang perannya tak tergantikan. “Semoga sinergi ini terus menguat. Dari tanah rantau, kontribusi panjenengan ikut membangun masa depan Indonesia yang lebih terhubung, inklusif, dan berdaya saing,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Khofifah menyerahkan tali asih sebesar Rp 50 juta kepada Ketua Paguyuban, Zaenal Mustofa, untuk mendukung kegiatan organisasi ke depan.
Zaenal menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap warganya di perantauan. “Kehadiran Ibu Gubernur merupakan bukti nyata kepedulian Pemerintah Jawa Timur. Semoga mempererat hubungan warga Jatim di Sultra,” ujarnya. (*)
Editor : Redaksi Sanubari