Total Lima Pejabat Keamanan Iran Jadi Korban

Operasi Militer Gabungan AS-Israel ke Teheran Tewaskan Ali Khameini

avatar Robby
Ayatollah Ali Khameini (AFP)
Ayatollah Ali Khameini (AFP)

IRAN, sanubari.co.id - Pasukan Amerika Serikat melancaran operasi militer ke beberapa wilayah Iran pada hari Sabtu, 28 Februari 2026. Seorang pejabat militer Amerika Serikat (AS) menyatakan serangan itu merupakan operasi gabungan dengan militer Israel. Kedua negara sama-sama mengerahkan pesawat tempur dalam jumlah besar.

Menurut kantor berita Fars, kantor berita Iran yang terafilasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), ledakan pertama dilaporkan terjadi di dekat kantor pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini, di Teheran. Menyusul kemudian ledakan lain di beberapa wilayah sekitarnya.

Pemerintah Iran langsung merespons dengan menutup wilayah udara sembari melakukan koordinasi internal. Hasilnya, Presiden Masoud Pezeshkian dilaporkan selamat dan berda di tempat aman. Namun pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khameini dinyatakan menjadi salah satu korban tewas. Kabar kematian Ali Khameini secara resmi disampaikan oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Selain Khameini, dikonfirmasi pula bahwa putri, menantu perempuan, serta cucunya juga turut tewas. Korban lain yang terkonfirmasi adalah Panglima IRGC Mohammad Pakpour, Sekretaris Dewan Pertahanan Iran Ali Shamkhani, serta lima pejabat keamanan strategis lain.

Militer Iran pun segera meluncurkan serangan balasan beberapa jam berselang. Pangkalan militer AS di Arab Saudi, Bahrain, Irak, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania mendapat serangan rudal. Sementara milisi Houthi, proxy Iran di Yaman, mengatakan bakal melakukan serangan di Laut Merah. Melihat dampak serangan terhadap Iran yang meluas, beberapa bandara sipil ditutup. Banyak penerbangan dari dan ke Timur Tengah dibatalkan.

Terkait kematian Ali Khameini, pemerintah Iran akan mengadakan pertemuan dengan para ulama dari Majelis Pakar unutk menentukan pengganti. Sayangnya hal itu akan sukar dilakukan karena banyak dari ulama tersebut berada di luar Teheran. Apalagi sekarang kondisi keamanan sangat tidak kondusif. Jaringan informasi, terutama internet, masih juga masih bermasalah.

D sisi lain, Presiden AS Donald Trump membuat status di media sosial terkait kematian Al Khameini.

“Dia tidak mampu menghindari Sistem Intelijen dan Pelacakan Canggih kami dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada satu pun yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah tewas bersamanya, lakukan,” tulis Trump.

“Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka,” tambahnya. (*)

Berita Terbaru