IRAN, sanubari.co.id - Pemerintah Iran melakukan balasan kilat atas serangan gabungan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran. Beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah diserang rudal. Tidak lama berselang, pemerintah Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz.
Tindakan Iran tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata, karena dampaknya sangat mempengaruhi rantai pasok global. Meski ukurannya kecil, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut tersibuk dan paling strategis di dunia. Sekitar 22% atau hampir seperempat pasokan minyak dunia melewati selat ini.
Baca Juga: Sebelum Wafat Ali Sempat Memberi Pesan Kepada Keluarga, Begini Isinya...
"IRGC (Korps Garda Revolusi Iran) sudah memperingatkan berbagai kapal bahwa karena suasana yang tak aman di sekitar selat akibat agresi militer AS dan Israel dan tanggapan Iran. Saat ini tidak aman untuk melewati selat tersebut," ungkap media lokal Iran, Tasnim, dalam laporannya.
Selat Hormuz (Nicolas Economou/REUTERS)
Baca Juga: Operasi Militer Gabungan AS-Israel ke Teheran Tewaskan Ali Khameini
Bagi negara-negara pengimpor minyak dari Timur Tengah, ini adalah alarm tanda bahaya. Dalam hitungan hari, harga minyak akan naik seiring berkurangnya pasokan. Minyak Brent, misalnya, sangat berpotensi menembus harga di atas US$100 per barel. Imbasnya, biaya pengiriman logistik naik dan pada gilirannya harga-harga barang di pasaran juga akan mengikuti.
Di sisi lain, pemerintah AS mengimbau semua kapal komersial segera menjauh dari Selat Hormuz. Setiap kapal juga wajib berkoordinasi dengan Naval Forces Central Command, serta memantau situasi terkini dari UK Maritime Trade Operation dan Joint Maritime Information Center.
"Disarankan agar kapal menjauhi wilayah ini (Selat Hormuz) jika memungkinkan," demikian isi imbauan tersebut sebagaimana dilansir dari kantor berita Anadolu pada hari Minggu, 1 Maret 2026.
Saat ini citra satelit dari pelacak kapal tanker menunjukkan kapal-kapal tidak bererak ke Selat Hormuz. Semua menumpuk di dekat pelabuhan-pelabuhan besar, seperti Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA). (*)
Editor : Robby