Tutup Selat Hormuz, Iran Panen Kecaman Internasional

avatar Robby
Selat Hormuz (Getty Images)
Selat Hormuz (Getty Images)

UEA, sanubari.co.id - Keputusan Iran menutup Selat Hormuz menyebabkan krisis energi global. Kapal-kapal pengangkut minyak dan gas tertahan, sehingga pasokan ke berbagai negara tersendat. Tak ayal, sikap Iran tersebut menuai kecaman internasional.

Pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, sebanyak 20 negara membuat pernyataan bersama untuk memastikan keamanan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Kementerian Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan bahwa pernyataan tersebut ditandatangani perwakilan UEA, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belana, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Ceko, Rumania, Bahrain, Lithuania, dan Australia.

Baca Juga: Serangan ke Kepala Negara, Tradisi Kekerasan yang Salah Jalan

"Kami mengecam keras serangan-serangan yang belum lama ini dilakukan Iran terhadap kapal-kapal dagang tak bersenjata di Teluk, serangan terhadap infrastruktur sipil termasuk instalasi minyak dan gas, serta penutupan Selat Hormuz secara de facto oleh pasukan Iran," isi salah satu bagian pernyataan tersebut.

Kecaman keras juga ditujukan pada tindakan Iran yang melakukan pemasangan ranjau, meluncurkan rudal dan drone, serta berbagai tindakan untuk mengganggu pelayaran internasional. Bila kecaman ini tidak diabaikan, negara-negera tersebut akan turun tangan mengamankan Selat Hormuz. Artinya, Iran akan berhadapan dengan koalisi internasional.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pun mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam. Jika tidak patuh, berbagai pembangkit listrik Iran akan dihancurkan.

"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam 48 jam sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka. Dimulai dari yang terbesar!"

Baca Juga: Dua Bulan Berlalu, Pemakaman Ali Khamenei Masih Belum Jelas

Unggahan itu dipublikasikan pada 21 Maret pukul 23.44 GMT. Artinya, Iran memiliki waktu hingga 23 Maret pukul 23.44 GMT (atau 24 Maret pukul 06.44 WIB) jika tidak ingin menghadapi konsekuensinya.

Terlepas dari sikap 20 negara tersebut, Iran juga tengah menjadi sorotan negara-negara Teluk. Hal ini terjadi akibat serangan Iran yang menyasar berbagai fasilitas umum serta kilang minyak beberapa negara tetangga.

Pada 20 Maret 2026, kilang minyak Mina Al-Ahmadidi Kuwait mendapat serangan rudal dan drone Iran. Beberapa hari sebelumnya, kilang-kilang minyak di Arab Saudi, Qatar, dan UEA juga mendapat serangan serupa. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, perbaikan kilang diperkirakan akan memakan waktu cukup lama.

Baca Juga: Absen Shalat bersama Warga, Mojtaba Khameini Kirim Ucapan via Medsos

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal Farhan Al Saud, memperingatkan bahwa tindakan Iran sama sekali tidak bisa diterima. Kepercayaan Arab Saudi terhadap Iran telah runtuh. Apalagi serangan ke Riyadh terjadi saat ibukota Arab Saudi tersebut menjadi tuan rumah acara pertemuan para diplomat regional.

"Tekanan dari Iran ini akan menjadi bumerang secara politik dan moral. Tentu saja kami berhak untuk mengabil tindakan militer jika diperlukan," kata Faisal geram.

Berita Terbaru