Tindakan inkonstitusional jadi pintu awal krisis nasional

Serangan ke Kepala Negara, Tradisi Kekerasan yang Salah Jalan

avatar Robby
Secret Service mengevakuasi Donald Trump (AP)
Secret Service mengevakuasi Donald Trump (AP)

Publik Amerika Serikat kembali digemparkan oleh upaya pembunuhan presiden. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu, 25 April 2026, saat Presiden Donald Trump menghadiri acara White House Corespondents Dinner di Hotel Hilton, Washington DC, yang dihadiri para jurnalis istana kepresidenan.

Saat acara tengah berlangsung, sekitar pukul 20.36 dari luar ruangan acara terdengar beberapa suara tembakan. Aparat keamanan langsung bergerak cepat mengamankan lokasi dengan mengunci ruangan dari dalam sembari memerintahkan semua orang berlindung di bawah meja. Sementara itu, Secret Service (pasukan pengamanan presiden Amerika Serikat) melakukan prosedur evakuasi darurat terhadap Presiden Donald Trump dan istrinya, Wakil Presiden JD Vance, serta beberapa pejabat teras yang ada di lokasi.

Baca Juga: Tutup Selat Hormuz, Iran Panen Kecaman Internasional

Pelaku yang berhasil ditangkap teridentifikasi sebagai Cole Thomas Allen (31). Ia berprofesi sebagai guru di lembaga pendidikan C2 Education sekaligus pengembang video game.

Ini adalah kali ketiga Donald Trump menghadapi upaya pembunuhan. Dua kejadian sebelumnya terjadi pada 13 Juli 2024 di Pennsylvania saat kampanye pemilihan presiden, kemudian pada September 2024 di Florida saat Trump tengah bermain golf.

Baca Juga: Emas Perpanjang Penurunan Seiring Kemajuan Negosiasi Dagang AS dengan Mitra Utama

Upaya pembunuhan terhadap presiden Amerika Serikat bukanlah hal baru. Beberapa presiden sebelumnya juga mengalami hal serupa. Presiden pertama yang menjadi korban pembunuhan adalah Abraham Lincoln (1865), dan yang terakhir John F. Kennedy (1963). Sedangkan enam presiden lain yang berhasil selamat, yaitu Andrew Jackson (1835), Theodore Roosevelt (1912), Franklin Roosevelt (1933), Harry Truman (1950), Herald Ford (1975), serta George W. Bush (2022).

Kembali pada serangan yang dialami Trump. Spekulasi tentang motif pelaku pun bermunculan, terlebih setelah yang bersangkutan diketahui merupakan simpatisan Partai Demokrat. Banyak yang mengaitkannya dengan isu persaingan politik di parlemen jelang Pemilu sela (midterm) yang akan digelar pada 3 November 2026.

Apapun alasannya, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa suhu di ruang-ruang publik kian memanas. Isu-isu seperti politik, perang, keamanan, keadilan, pangan, dan kesejahteraan menyebabkan dampak yang lebih kompleks. Beberapa orang mungkin dapat menanggapi dengan kepala dingin. Namun beberapa lainnya bisa menanggapi dengan cara-cara frontal yang pada akhirnya justru memunculkan masalah baru.

Baca Juga: BI Rate Turun, IHSG Menguat

Pembunuhan terhadap presiden ataupun kepala pemerintahan memang kerap dipandang sebagai jalan pintas menuju perubahan nasional. Kenyataannya, tindakan tersebut justru lebih sering menjadi titik awal krisis nasional, kepanikan publik, serta krisis politik serius. Sebut saja, misalnya, yang terjadi pada Moammar Khadafi di Libya, Jovenel Mouse di Haiti, atau Patrice Lumomba di Kongo. Alih-alih untung, justru rakyat yang menjadi korbannya.

Pertanyaannya, jika rakyat yang justru menjadi korban dari tindakan yang inkonstitusional, siapakah yang kemudian akan mendapat keuntungan? Mari berpikir.

Berita Terbaru