SURABAYA, sanubari.co.id - Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam bagi seluruh elemen bangsa. Pendidikan bukan sekadar ruang belajar, melainkan tempat membentuk karakter, integritas, dan masa depan generasi ke generasi.
Semangat yang diwariskan Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia, bukan justru melukai dan merendahkan martabat peserta didik.
Baca Juga: MAKI Jatim Bagikan Ratusan Paket Takjil di Penghujung Ramadan
Namun, realitas hari ini masih jauh dari harapan. Kasus bullying di lingkungan pendidikan terus terjadi, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis. Ironisnya, praktik perundungan ini kerap dianggap sepele, ditutupi, bahkan dinormalisasi sebagai “bagian dari proses pendewasaan”.
Padahal, dampaknya sangat nyata: trauma berkepanjangan, hilangnya rasa percaya diri, hingga depresi yang berkelanjutan.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satryo, menyampaikan peringatan keras terhadap kondisi tersebut. Ia menilai pembiaran terhadap bullying merupakan bentuk kegagalan sistem pendidikan dalam menjalankan fungsi utamanya.
“Jika sekolah tidak lagi menjadi tempat yang aman, maka kita sedang gagal melindungi masa depan bangsa. Bullying bukan kenakalan biasa, ini adalah kekerasan yang harus dihentikan!” tegasnya.
Lebih jauh, Heru menyoroti bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan keberanian dari pihak sekolah, ketegasan pemerintah, serta pengawasan masyarakat. Tidak boleh ada lagi upaya menutup-nutupi kasus demi menjaga citra institusi.
Baca Juga: Semangat Ramadan: Tim Takjil MAKI Jatim Tebar 1.000 Paket di Jalan Raya Juanda
MAKI Jatim pun memberikan ultimatum tegas. Setiap kasus bullying harus ditangani secara serius, transparan, dan berkeadilan. Institusi pendidikan yang lalai wajib dievaluasi dan ditindak lebih serius.
Tidak boleh ada toleransi terhadap pelaku kekerasan dalam bentuk apa pun di dunia pendidikan.
Menurut Heru, pendidikan yang bersih tidak hanya bebas dari korupsi, tetapi juga bebas dari kekerasan dan intimidasi. Sebab, bagaimana mungkin berbicara tentang mencetak generasi unggul jika lingkungan belajarnya sendiri dipenuhi rasa takut?
Hari Pendidikan Nasional harus menjadi titik balik. Ini bukan lagi saatnya seremoni dan slogan kosong, melainkan momentum untuk melakukan pembenahan nyata.
Baca Juga: Tolak Eksekusi Rumah, Beberapa Ormas Perjuangkan Tri Kumala Dewi
“Negara tidak boleh kalah oleh budaya diam. Dunia pendidikan harus berdiri di garis depan dalam melindungi anak-anak kita. Jika tidak, maka kita sedang membiarkan satu generasi tumbuh dengan luka,” ujarnya.
Dengan semangat perubahan, MAKI Jatim menyerukan seluruh pihak untuk kembali pada esensi pendidikan, yakni membangun manusia yang berilmu, berkarakter, dan bermartabat.
Bergerak bersama, hentikan bullying, bersihkan dunia pendidikan, dan wujudkan Indonesia yang benar-benar beradab serta peduli terhadap generasi bangsanya. (*)
Editor : Redaksi Sanubari