AMERIKA SERIKAT, sanubari.co.id - Unicef (United Nations Children's Fund) memperingatkan, lebih dari 2,1 miliar anak di seluruh dunia berpotensi menghadapi setidaknya delapan risiko perubahan iklim.
Risiko yang dimaksud badan yang fokus mengurusi hak dan kesejahteraan anak-anak itu meliputi banjir pesisir, banjir sungai, kekeringan dan siklon tropis.
Termasuk ancaman gelombang panas --setidaknya tiga hari dengan suhu di atas ambang batas tertentu yang bervariasi menurut negara, panas ekstrem, kebakaran hutan, serta badai pasir.
Dalam laporan yang dirilis pada 15 Juni 2026, Unicef mengungkapkan, sekitar 2,3 miliar anak di dunia, terpapar setidaknya satu risiko.
Dua miliar anak menghadapi setidaknya dua risiko, 1,1 milyar anak menghadapi tiga resiko, dan 364 juta anak menghadapi setidaknya empat risiko.
Dari kedelapan risiko tersebut, kombinasi yang paling umum adalah kekeringan, panas ekstrem, (di atas 35°C) dan gelombang panas.
"Anak-anak berada di garis depan dampak perubahan iklim,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell.
Tom Slymaker, salah satu penulis laporan tersebut, mengatakan kepada AFP bahwa "tidak ada jawaban singkat dan sederhana" mengenai tempat terburuk bagi seorang anak.
"Namun, situasinya tidak sama di semua tempat. Kita melihat titik-titik rawan situasi ini terutama terkonsentrasi di Afrika sub-Sahara dan sebagian Asia Selatan," tambahnya.
Negara-negara Afrika sub-Sahara, terutama wilayah Sahel, memiliki proporsi anak-anak yang terdampak paling tinggi.
Situasi ini sering diperparah oleh ketidakmampuan pemerintah untuk mengatasi bahaya iklim.
Republik Chad, misalnya. Di negara itu, berpotensi menghadapi krisis kemanusiaan dengan akses terbatas terhadap air, listrik, dan makanan.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 95 persen anak-anak di sana terpapar setidaknya tiga risiko, salah satu proporsi tertinggi di dunia.
Negara-negara lain yang sangat rentan termasuk 39 negara kepulauan yang menghadapi tantangan.
Seperti kekurangan air tawar, ketergantungan pada impor, dan ketidakmampuan untuk menemukan tempat berlindung setelah bencana seperti badai hebat.
Singkat kata, tidak ada negara yang sepenuhnya aman.
"Di banyak negara, sebagian kecil penduduk mungkin tidak terpapar risiko ini; daerah-daerah ini biasanya berada di Belahan Bumi Utara, khususnya sebagian wilayah Skandinavia," tegas Sleemaker. (*)
Editor : Robby