Jakarta, sanubari co.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan Bibit Siklon Tropis 94W yang terdeteksi di Laut Filipina sejak akhir Juli 2026. Meski belum menjadi siklon tropis penuh, kondisi ini telah memicu peningkatan cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.
Bibit siklon tropis adalah sistem tekanan rendah di atas lautan yang berpotensi berkembang menjadi siklon tropis apabila kondisi atmosfer dan suhu permukaan laut mendukung. Sistem seperti 94W dapat memengaruhi cuaca di wilayah sekitarnya meski pusatnya berada jauh dari daratan, melalui pembentukan daerah konvergensi angin yang memicu pertumbuhan awan hujan secara masif.
Berdasarkan pemantauan BMKG, bibit siklon ini menunjukkan tren penguatan dalam beberapa hari terakhir. Pada 1 Agustus 2026, sistem tercatat berada di Laut Filipina utara Papua dengan kecepatan angin hingga 15 knot (28 km/jam) dengan pergerakan ke arah barat. Memasuki 3 Agustus 2026, intensitasnya meningkat naik menjadi 25 knot dan arahnya barat-barat laut. Perubahan ini juga diikuti pembentukan awan hujan. BMKG menyikapi situasi ini dengan mengeluarkan peringatan dini hujan kebatndan gelombang tinggi. Peringatan berlaku untuk periode 3–6 Agustus 2026.
Adapun wilayah yang berpotensi mengalami hujan intensitas sedang hingga sangat lebat meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu. Daerah lain yang berpotensi terdampak adalah sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, dan Bali. Di sisi kelautan, tinggi gelombang berkisar 1,25–2,5 meter (kategori moderat) diperkirakan terjadi di Perairan Kepulauan Sangihe hingga Talaud, Laut Maluku, serta Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua Barat Daya.
Plt. Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Agie Wandala Putra, pun meminta masyarakat mewaspadai perubahan cuaca.
"Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada," katanya.
BMKG mengimbau masyarakat pesisir dan pelaku pelayaran—termasuk nelayan, operator kapal tongkang, dan kapal kecil—untuk menunda aktivitas laut bila gelombang tinggi terjadi. Masyarakat di daerah rawan banjir dan longsor diminta memangkas pohon rawan tumbang, membersihkan saluran air, serta memantau informasi cuaca resmi BMKG secara berkala. Pemerintah daerah juga disarankan menyiagakan jalur evakuasi dan personel penanggulangan bencana di wilayah berstatus siaga.
Editor : Robby