Survei ARCI mencatat dominasi Gerindra di Jawa Timur

Gerindra Kuasai Jatim, Demokrat Kian Melesat

avatar Michael Fredy Yacob
Peneliti ARCI, Baihaki Sirajt
Peneliti ARCI, Baihaki Sirajt

SURABAYA, sanubari.co.id - Dominasi Partai Gerindra di Jawa Timur tampaknya belum tergoyahkan. Survei teranyar Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) menempatkan partai berlambang kepala garuda itu di pucuk klasemen elektabilitas partai politik di provinsi ujung timur Pulau Jawa.

“Gerindra kokoh di posisi teratas sejak akhir 2025. Ketika partai lain cenderung jalan di tempat, Demokrat justru menunjukkan progres yang signifikan,” kata Peneliti ARCI, Baihaki Sirajt, di Surabaya, Kamis, 3 September 2026.

Baca Juga: Khofifah-Emil Semakin Dicintai, Trans Jatim Puncaki Kepuasan Publik

Dalam temuan ARCI, Gerindra memimpin dengan tingkat keterpilihan 16,3 persen, dibayangi oleh PKB (15,1 persen) dan PDI Perjuangan (13,7 persen). Demokrat berhasil merangsek naik dengan elektabilitas 12,5 persen, menyamai perolehan Golkar.

Posisi berikutnya secara berurutan diisi oleh PSI (5,1 persen), PAN (4,2 persen), NasDem dan PKS (masing-masing 4,1 persen), PPP (1,5 persen), serta Perindo (1,1 persen). Sisa responden memilih partai lain (3,5 persen) atau belum menentukan sikap (6,3 persen).

Baihaki menguraikan sejumlah faktor di balik kejayaan Gerindra. Mesin partai dinilai berjalan efektif berkat para legislator yang rajin turun gelanggang mengawal program presiden sekaligus menyerap aspirasi warga.

Tak hanya itu, banyaknya kursi kepala daerah yang diduduki kader Gerindra di Jawa Timur turut memberikan insentif elektoral.

Tingkat top of mind masyarakat terhadap partai presiden juga tercatat sangat tinggi, meski Baihaki menilai angka tersebut masih bisa digenjot lagi lewat kinerja kerakyatan.

Di saat PKB stagnan, PDI Perjuangan bergerak lambat, dan Golkar merosot, Demokrat justru melaju kencang. Lompatan elektoral partai berlambang bintang mercy ini ditopang oleh penyegaran mesin partai.

Perombakan susunan kepengurusan DPD Demokrat Jawa Timur pada 2025 terbukti menghidupkan kembali denyut partai lewat program-program yang bersentuhan langsung dengan akar rumput.

Baca Juga: Puas Kepemimpinan Fawait-Djoko, Jember Home Care Jadi Primadona

Efek ekor jas (coattail effect) juga menjadi motor penggerak utama. Baihaki menyebut moncernya kinerja Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di kabinet dan manuver Emil Elestianto Dardak di daerah sukses mendongkrak suara.

Pada Pemilu 2024 lalu, belum banyak publik yang mengetahui kiprah Emil sebagai nakhoda Demokrat di Jawa Timur.

“Kini, 98,7 persen responden tahu Emil Dardak adalah Ketua DPD Demokrat Jatim. Ini bekal berharga menuju Pileg 2029 seiring tren personal Emil yang terus menanjak,” tuturnya. 

Kekuatan Demokrat kini mengakar kuat di kawasan Mataraman, diwarnai progres di wilayah Arek dan Tapal Kuda, meski masih harus berjuang keras menembus dominasi di Pantura dan Madura.

Kontras dengan Demokrat, nasib Partai Persatuan Pembangunan (PPP) justru kian merana. Angka 1,5 persen menjadi rekor terendah partai ka'bah tersebut sepanjang sejarah survei ARCI.

Baca Juga: EF Wens Kaum Minoritas di Panggung Legislatif 1956

Baihaki menyoroti ketiadaan figur populis di tingkat provinsi sebagai biang kerok anjloknya suara PPP di hampir seluruh kantong wilayah. Mereka hanya mampu bertahan di Madura—bersaing di posisi lima besar—berkat tokoh lokal yang masih mengakar.

“Ini alarm bahaya bagi PPP yang menargetkan lolos ke Senayan pada 2029, mengingat Jatim adalah lumbung suara utama,” terangnya.

Sebagai catatan, survei ARCI ini diselenggarakan pada 18–28 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden di seluruh Jawa Timur.

Menggunakan metode penarikan sampel secara acak, survei ini memiliki tingkat toleransi kesalahan (margin of error) sebesar 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (*)

Berita Terbaru