Edmund Kuhl, Musisi Berdarah Jerman dan Surabaya yang Gelar Konser Piano untuk Peduli Timika

avatar Heti Palestina Yunani
Penampilan Edmund Kuhl di  Wisma Jerman Surabaya, Ruang Halle, konser pada Sabtu, 12 September 2026 untuk menghormati Bach yang dikaguminya.
Penampilan Edmund Kuhl di Wisma Jerman Surabaya, Ruang Halle, konser pada Sabtu, 12 September 2026 untuk menghormati Bach yang dikaguminya.

Surabaya, sanubari.co.id - Konser Barockmusik Auf Dem Flügel: Tradition Und Interpretation Mit Edmund Kuhl atau Musik Barok pada Piano: Tradisi dan Interpretasi bersama Edmund Kuhl berlangsung sukses di Ruang Halle, Wisma Jerman Surabaya, pada Sabtu 12 September 2026. Dalam konser amal untuk menghimpun dana bagi Timika, Edmund membawakan karya-karya Bach.

Siapakah Edmund? Sebagai musisi muda, Edmund tergolong musisi yang sangat mumpuni. Maklum, Edmund telah berlajar musik klasik sejak kecil secara sangat alami. Padahal baik dari ayah atau ibunya, tak ada yang bermain musik terutama klasik. Tetapi Edmund kecil sudah tertarik belajar sejak usia 4 tahun.

Di usia 8 tahun, Edmund mulai les organ pipa di gereja dekat rumah bersama organis/direktur musik selama 4 tahun. Guru organ pipa mengenalkan Edmund dengan sama alat musik harpsichord dan clavichord. Ketertarikan Edmund pada musik harpsichord memang besar. Saat Edmund berumur 10 ia debut konser organ pipa di Johanneskirche Frohnau, Berlin.

Saat keluarganya pindah ke Surabaya pada 2020 atau saat Edmund berusia 12 tahun, kecintaan Edmund pada musik tak terputus. Dalam situasi dunia yang sedang dilanda pandemi, di kota kelahiran ibunya, Edmund berguru pada Hendrata Prasetia dari Wisma Musik Rhapsody untuk belajar piano. Setelah itu tak ada lagi guru khusus untuk Edmund karena ia lebih memilih untuk belajar sendiri di rumah.

Meskipun belajar piano, tetapi Edmund lebih fokus pada harpsichord. Selama di Surabaya, ia melanjutkan les secara online dengan seorang guru di Jerman. Pada 2018 Edmund mengikuti masterclass harpsichord di Hochschule für Musik Würzburg bersama Prof. Ralf Waldner. Sebelum tampil di Wisma Jerman, Edmund telah menggelar konser solo bertajuk Soli Deo Gloria Pipe Organ Recital dan The Poetic Harpsichord di Jakarta Conservatory of Music.

Sebagai musisi yang mempelajari semua karya komponis dan musisi ternama dunia, Edmund mengaku sangat mencintai komposer Johann Sebastian Bach. Sebab sebagai pemain pipa organ, Bach sangat menginspirasi Edmund untuk mengikuti jejaknya. ”Pertama kali saya menyentuh pipa organ itu di gereja dekat rumah. Sejak itu setiap hari saya latihan 1-1,5 jam. Saat umur 10 tahun baru 2 jam sehari. Sekarang sudah 5 jam sehari,” katanya.

Kecintaannya pada Bach juga itulah yang mendorong Edmund menggelar konser di Wisma Jerman. Hampir dalam 1,5 jam penampilannya, Edmund mempersembahkan komposisi milik Bach. Sebuat saja Ricercar A 6 From The Musical Offering Italian, Concerto Bwv 971, dan Ricercar A 6 From The Musical Offering. Yang lainnya ada Marche Pour La Cérémonie Des Turcs Karya Jean-Baptiste Lully atau Les Barricades Mystérieuses oleh François Couperin.

Menurut Lincie, seorang guru piano, kemapuan Edmund dalam memainkan piano patut dihargai. Selama konser Edmund dapat mengajak penontonnya memahami musik klasik yang biasanya tidak familiar bahkan kadang terasa membosankan. ”Buat yang tak terbiasa dengan musik klasik, cara Edmund memainkan bisa membuat orang bisa merasakan apa yang dirasakan Edmund,” katanya.  

Dijelaskan pendiri Grand Stave Performing Arts itu, apa yang ditunjukkan Edmund dalam musik itulah yang mendorong dirinya menyelenggarakan konser bersama dukungan Wisma Jerman dan Abide Indonesia. “Bahkan tak hanya konser untuk unjuk kemampuan ya tetapi sekaligus mengumpulkan donasi untuk Timika. Itulah yang membuat saya salut dengan Edmund,” terang Lincie.

Di akhir konser, Edmund menyerahkan sumbangannya secara pribadi berupa biola yang merupakan alat musiknya sendiri. Ia rela memberikan biola itu karena yakin lebih bermanfaat untuk orang lain yang ingin belajar musik klasik seperti dirinya. ”Saya ingin musik mengantarkan saya untuk berbuat apa pun termasuk menunjukkan kepedulian kepada sesame,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Lincie sebagai MC menerangkan misi Edmund sebelum konser berlangsung. "Selain donasi yang bisa dikirimkan melalui itu, BCA 1880282804 atas nama saya Lientjie I. Njoto, silakan berdonasi buku piano atau buku teori musik layak pakai. Selama konser, penonton juga banyak yang langsung memberikan donasinya,” ujar Lincie.

Setelah konser keempatnya itu, Edmund berharap ia konsisten bermain musik klasik. Bahkan Edmund juga berangan-angan untuk bisa melakukan kolaborasi dengan seniman Indonesia yang memainkan musik tradisional Indonesia yang kaya. Tapi yang penting semua itu harus mendukung keinginan Edmund yang dikenal sebagai pemain harpsichord baroque Indonesia dan terus menggelar konser di Indonesia. (*)

Berita Terbaru