Jakarta, sanubari.co.id — PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tengah mengkaji pengembangan pesawat ambulans udara untuk melayanan masyarakat di wilayah terpencil dan sulit dijangkau. Program tersebut merupakan bagian dari rencana pemerintah mengembangkan sistem transportasi medis udara yang melibatkan pesawat kecil dan helikopter.
Wakil Presiden Direktur Bidang Business Development & Marketing PTDI, Heber M. F. Panjaitan, mengatakan perusahaan sedang mengeksplorasi sejumlah platform pesawat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. NC212 menjadi salah satu kandidat karena memiliki konfigurasi yang dinilai memudahkan proses evakuasi dan pemindahan pasien.
“Kita juga sedang explore untuk ambulans terbang. Jadi kita melihat platform NC212 ini cukup fleksibel untuk digunakan sebagai ambulans terbang, karena loading-unloading untuk orang sakit itu lebih mudah,” ujar Heber.
Selain NC212, N219 juga menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan. PTDI membuka kemungkinan pengembangan dilakukan bersama lembaga penelitian dan pihak terkait, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
N219. (AviationBandung)
BRIN sebelumnya sedang mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya, N219A. Pesawat tersebut memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), sehingga dapat dioperasikan dari landasan yang relatif pendek. Kemampuan ini dinilai relevan untuk mendukung layanan kesehatan di wilayah kepulauan dan daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur penerbangan.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan N219 dan N219A diarahkan untuk mendukung kebutuhan transportasi udara di masa depan.
“Menjawab visi ambulans terbang dan logistik medis masa depan, BRIN bersandar pada keunggulan teknologi kedirgantaraan nasional,” kata Arif.
Rencana tersebut mendapat dukungan pemerintah. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah ingin menyediakan ambulans udara menggunakan pesawat kecil dan helikopter untuk membantu masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.
“Untuk itu kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan bisa mendarat di pinggir sungai,” ujar Prabowo saat menyampaikan keterangan pemerintah terkait RAPBN 2027 pada 14 Agustus 2026 lalu.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan Kementerian Kesehatan memiliki rencana membeli pesawat ambulans dari PTDI. Namun, jumlah pesawat dan spesifikasi akhirnya masih dalam pembahasan bersama kementerian dan lembaga terkait.
Dengan demikian, proyek ambulans udara PTDI saat ini masih berada pada tahap kajian dan pengembangan konsep, belum memasuki produksi massal. Pemerintah masih perlu menentukan platform, konfigurasi medis, jumlah unit, skema pembiayaan, serta jaringan operasionalnya.
Editor : Robby