BATU, sanubari.co.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong pengembangan peternakan sapi perah di wilayahnya tidak sekadar berfokus pada peningkatan populasi.
Ia meminta agar produktivitas, kualitas bibit, ketersediaan pakan, hingga nilai ekonomi dari sektor ini terus diperkuat.
Baca Juga: Misi Dagang Jatim-Sulsel Catat Transaksi Rp5,69 Triliun
Pesan tersebut ditekankan Khofifah saat meninjau langsung Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (UPT PT dan HMT) Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur di Kota Batu, Minggu lalu.
Dalam kunjungannya, Khofifah mengamati keseluruhan aktivitas peternakan—mulai dari pemuliabiakan sapi perah, produksi susu, hingga pengembangan lahan pakan ternak.
Ia menilai pengelolaan fasilitas tersebut telah berjalan optimal dan memiliki peran strategis bagi daerah.
"Saya melihat prosesnya cukup bagus. Kandangnya bersih dan produktivitasnya tinggi. Oleh karena itu, UPT ini juga sudah menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Pemprov Jawa Timur," kata Khofifah.
Saat ini, UPT tersebut mengelola 130 ekor sapi yang terdiri atas 72 sapi dewasa, 28 sapi dara, dan 30 pedet (anak sapi). Dari total sapi dewasa, 40 diantaranya merupakan sapi laktasi yang mampu memproduksi susu sebanyak 25 hingga 30 liter per ekor setiap harinya.
Secara keseluruhan, produksi susu harian di UPT ini mencapai 600 liter. Hasil produksi ini, beserta produk hilirisasi seperti keju dan susu pasteurisasi, benih rumput, serta agrowisata ternak, berhasil menyumbang PAD Jawa Timur sekitar Rp 1 miliar per tahun.
Baca Juga: Disperindag Jatim Luncurkan Dashboard JATIM MELESAT
Melihat tingginya potensi ekonomi tersebut, Khofifah berharap kapasitas populasi sapi perah di fasilitas ini dapat terus diperluas beriringan dengan peningkatan mutu bibit.
"Mudah-mudahan kita bisa meluaskan populasinya dari 130 menjadi 200 ekor di UPT Kota Batu ini, karena areanya cukup luas," ujarnya.
Khofifah juga menegaskan bahwa keberlanjutan budidaya sapi perah harus ditopang ketersediaan pakan yang memadai. UPT di Batu ini menempati lahan seluas 13 hektare, dengan 9,5 hektare di antaranya telah dimanfaatkan.
Sebanyak 7 hektare lahan difokuskan secara khusus untuk penanaman rumput gajah sebagai sumber hijauan pakan ternak, guna memenuhi kebutuhan pakan sapi yang mencapai 1.300 ton per tahun.
Baca Juga: Misi Dagang Jatim-Aceh Raup Rp1,2 Triliun
Lebih jauh, fasilitas yang dilengkapi dengan laboratorium dan kamar susu ini tak hanya berfungsi sebagai tempat budidaya ternak.
UPT tersebut juga menjadi rujukan praktik serta penelitian bagi siswa dan mahasiswa dari berbagai fakultas kedokteran hewan dan peternakan di Indonesia.
"Jadi kita berharap pengembangan peternakan, khususnya sapi perah, bisa terus ditingkatkan. Tidak hanya dari sisi populasi, tetapi juga produktivitas, kualitas bibit, serta pakan ternaknya agar bisa diterapkan lebih luas oleh masyarakat," tutur Khofifah. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob