SURABAYA, sanubari.co.id – Kawasan Kota Lama Surabaya kembali memancarkan pesonanya. Tak sekadar menjadi destinasi wisata sejarah, kawasan ini kini bertransformasi menjadi rahim bagi tumbuhnya ekonomi kreatif.
Ratusan pengunjung silih berganti memadati pelataran Gedung Internatio untuk menghadiri Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata: Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 Sesi VII, Kamis, 30 Juli 2026.
Baca juga: Festival Ekraf Jatim Dongkrak UMKM
Festival dua hari ini menjadi melting pot bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Tujuannya satu: memperluas pasar produk unggulan Jawa Timur.
Sejak siang hingga sore, kawasan bersejarah itu berdenyut nadi. Pengunjung menyesaki puluhan stan untuk menyesap aneka kopi Nusantara, mengudap camilan lokal, dan bertukar cerita dengan pelaku usaha di balik dapur produksi.
Sedikitnya 20 tenant UMKM asal Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik unjuk gigi. Mereka menjajakan kopi khas daerah, teh, cokelat, kebab, hingga aneka makanan olahan. Kemeriahan makin terasa dengan iringan musik dari Bring it Band yang menghibur pengunjung kala berburu kuliner.
Mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Tim Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Ekonomi Kreatif, Ibnu Purwantama, menyebut festival ini sebagai strategi jitu pemerintah provinsi.
“Kami ingin memperkuat promosi produk unggulan daerah yang lekat dengan sektor pariwisata,” katanya.
Jawa Timur, kata Ibnu, kaya akan sumber daya dan produk inovatif masyarakat. Potensi ini harus terus didorong untuk menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, dan menaikkan daya saing daerah.
“Ini bukan sekadar pameran, melainkan wadah bertukar ide, memperluas jejaring, dan membangun kerja sama yang berkelanjutan,” ujarnya.
Baca juga: Kutukan Lawu Bagi Warga Blora
Keberhasilan festival, menurut Ibnu, tak hanya diukur dari tingginya angka kunjungan, tetapi dari dampak nyata pada kantong perekonomian warga. Pihaknya membidik peningkatan transaksi, kemitraan baru, serta bertambahnya minat wisata ke Jawa Timur.
Bagi pelaku UMKM, pameran ini ibarat angin segar. Pemilik Playground Coffee, Bayu Febrianto, mengaku mendapat untung ganda setiap kali mengikuti acara garapan Disbudpar Jatim tersebut.
"Acara seperti ini sangat worth it. Yang terpenting bukan cuma jualan, tapi mencari pelanggan baru dan mengenalkan kopi Jawa Timur yang berkualitas tinggi," tutur Bayu.
Lewat pameran, Bayu sekaligus mengedukasi pengunjung tentang metode seduh manual (manual brew). Ia menjelaskan bahwa kopi tak melulu tubruk. Pembuatan manual brew butuh takaran rasio, ukuran gilingan, hingga suhu air yang presisi.
Pekan lalu, omzet Bayu di acara serupa menembus Rp1,5 juta. Namun baginya, pelanggan baru adalah aset terbesar. "Untuk mengenalkan produk ke customer baru, acara ini sangat layak diikuti," ucapnya.
Baca juga: Festival Kopi Surabaya Dorong Ekonomi Kreatif
Senada dengan Bayu, pemilik Olive Canteen, Aprilia, juga meraup berkah. Lokasi usahanya yang berada di dalam area Apartemen Grand Dharmahusada Lagoon, Mulyosari, membuatnya butuh panggung promosi ektra.
"Lewat pameran gratis ini, orang jadi tahu tempat kami. Bahkan, banyak yang bertanya apakah bisa makan di tempat atau sekadar nongkrong," kata Aprilia.
Bagi Aprilia, nilai terbesar dari festival ini bukanlah omzet harian yang fluktuatif, melainkan meluasnya jangkauan merek.
Festival Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 menegaskan wajah baru Kota Lama Surabaya. Tak sekadar saksi bisu masa lalu, kawasan ini kini hidup sebagai ruang produktif—tempat pariwisata dan roda ekonomi lokal berjalan beriringan menjemput pasar yang lebih luas. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob