Dalam hitungan jam, Purbaya berubah dari pengendali kebijakan fiskal menjadi mantan menteri

Menatap Harapan Menteri Keuangan yang Baru: Refleksi Reshuffle di Balik Telepon

Reporter : Alan Christian Singkali
Ilustrasi mantan Menteri Keuangan Purbaya saat menerima telepon.

Catatan: Alan Christian Singkali, Direktur sanubari.co.id

SENIN siang, 14 September 2026, di ruang rapat gabungan Komite IV DPD RI, semua tampak biasa saja. Hari itu, Purbaya Yudhi Sadewa, mengenakan batik bermotif bunga. 

Baca juga: Dari Siang sampai Menjelang Malam di Fuzhou: Ngeteh Santai, Mini Conference, Lanjut ke CBC

Ia tengah memaparkan angka-angka fiskal yang sudah begitu ia hafal di luar kepala: defisit APBN yang bertahan di kisaran 0,9 persen terhadap PDB hingga akhir Agustus, pendapatan negara yang tumbuh 21,3 persen secara tahunan, belanja yang naik 18,2 persen. 

Rapat itu semula dijadwalkan selesai pukul 14.10 WIB, lalu diperpanjang. Tidak ada yang mencurigai apa pun. 

Ketua Komite IV, Ahmad Nawardi, kelak mengingat betapa "biasa saja" suasana hari itu —Purbaya bicara soal transfer ke daerah dan dana bagi hasil dengan tenang seperti hari-hari sebelumnya.

Lalu telepon itu berdering.

“Pak Menteri, saya putus dulu. Ada telepon dari Men— Pak Menteri tolong dilihat,” ujar pimpinan rapat, memotong pemaparan yang belum selesai. 

Purbaya melangkah keluar ruangan. Dalam video yang kemudian beredar luas, ia terlihat menjawab panggilan dengan nada formal. Hampir seperti bawahan yang siaga menanti perintah: "Halo Pak. Iya, siap-siap. Saya masih di DPD, Pak." 

Sekitar pukul 14.30 WIB ia meninggalkan kompleks parlemen.  Satu jam kemudian, di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru.

Purbaya baru menjabat satu tahun enam hari.

Ketika Telepon Menjadi Metafora

Ada sesuatu yang mengusik dari cara kabar ini sampai ke publik: bukan lewat konferensi pers, bukan lewat pengumuman terjadwal, melainkan lewat dering telepon di sela rapat yang sedang berlangsung. 

Purbaya sendiri, menurut pengakuan orang-orang di sekitarnya, tidak menunjukkan tanda-tanda mengetahui nasibnya akan berubah sore itu. 

"Kalau beliau tahu akan diganti kan nggak mungkin hadir," kata Nawardi.

Telepon di tengah rapat itu, secara tidak sengaja, menjadi metafora yang jujur tentang bagaimana kekuasaan bekerja di level tertinggi pemerintahan: cepat, personal, dan seringkali tidak memberi ruang untuk perpisahan yang layak. 

Seorang pejabat bisa menghabiskan pagi hari menjelaskan proyeksi defisit anggaran untuk tahun mendatang, dan sore harinya sudah tidak lagi memiliki wewenang atas angka-angka yang baru saja ia paparkan dengan penuh keyakinan. 

Ironisnya, Purbaya dikabarkan bahkan belum sempat menandatangani kesimpulan rapat mengenai RAPBN 2027 — pekerjaan yang ia mulai, diselesaikan oleh orang lain.

Ini bukan sekadar drama personal. ini soal bagaimana kontinuitas kebijakan fiskal — sesuatu yang idealnya berjalan dengan prediktabilitas dan kepercayaan pasar — bisa terguncang dalam hitungan jam oleh keputusan yang datangnya dari satu panggilan telepon.

Dari Insinyur ke Bendahara Negara — dan Berhenti di Tengah Jalan

Kepergian Purbaya terasa lebih menyesakkan karena perjalanannya menuju kursi Menkeu sesungguhnya panjang dan meyakinkan. 

Sarjana Teknik Elektro dari ITB yang kemudian menekuni ilmu ekonomi hingga meraih gelar doktor dari Purdue University itu membawa kombinasi jarang: cara berpikir insinyur yang sistematis dipadu dengan jam terbang lebih dari dua dekade di dunia ekonomi. 

Sejak menjadi penasihat di era Presiden SBY, anggota Komite Ekonomi Nasional, mendampingi Presiden Jokowi menghadapi krisis Covid-19, hingga memimpin Lembaga Penjamin Simpanan sejak 2020.

Ketika dilantik menggantikan Sri Mulyani pada September 2025, publik menyambutnya dengan optimisme yang wajar. 

Ia disebut sebagai teknokrat yang paham betul denyut pasar, karena rekam jejaknya bukan hanya di birokrasi tapi juga di sektor swasta — riset ekonomi dan pasar keuangan. 

Banyak yang berharap ia akan melanjutkan disiplin fiskal yang telah dibangun bertahun-tahun.

Baca juga: Reshuffle Menteri Keuangan, Suahasil Nazara Gantikan Purbaya

Satu tahun enam hari kemudian, harapan itu terpotong — persis seperti rapatnya yang terpotong oleh dering telepon.

Suahasil dan Beban Kontinuitas

Suahasil Nazara bukan wajah baru. Selama ini ia adalah "orang kedua" di Kementerian Keuangan — Wakil Menteri Keuangan sejak era Sri Mulyani pada 2019, lalu kembali dilantik sebagai Wamenkeu di Kabinet Merah Putih pada Oktober 2024. 

Latar belakangnya adalah dunia akademik: dosen FEB Universitas Indonesia sejak 1999, Guru Besar Ilmu Ekonomi sejak 2009, dengan gelar master dari Cornell University dan doktor dari University of Illinois at Urbana-Champaign.

Jika Purbaya adalah simbol teknokrat yang datang dari luar lingkaran dalam Kemenkeu, Suahasil adalah kebalikannya: sosok yang telah lama berada di jantung institusi itu sendiri, memahami setiap lekuk birokrasi fiskal dari dalam. 

Ketika ia tiba di Istana sore itu — mengenakan jas hitam dan dasi biru muda, melempar senyum kepada wartawan yang menunggu — ia tampak seperti seseorang yang sudah lama bersiap untuk momen ini, meski mungkin tidak menyangka akan datang secepat itu.

Harapan yang disematkan padanya pun berbeda nuansa. Bukan harapan akan gebrakan baru, melainkan harapan akan stabilitas — kepastian bahwa tangan yang memegang kemudi fiskal negara adalah tangan yang sudah hafal jalannya.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Pasar bereaksi, dan reaksinya justru dramatis. Sepanjang hari IHSG bergerak di zona merah, bahkan sempat ambles ke level terendah intraday pada pukul 15.00 WIB — tepat di sekitar waktu kabar reshuffle mulai menguat. 

Terdapat variasi kecil dalam pencatatan level terendah tersebut (6.371,39 menurut RRI; 6.373,96 menurut data RTI Business yang dikutip Detik), kemungkinan akibat perbedaan sumber data. 

Namun begitu pelantikan Suahasil diumumkan, indeks berbalik arah dan sempat melonjak kembali ke atas 6.546, sebelum akhirnya ditutup di level 6.534,69, melemah tipis 0,1 persen untuk hari itu. 

Analis senior Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai penguatan mendadak itu sebagai respons awal pasar yang cenderung positif — investor membaca sosok Suahasil, yang sudah lama menjadi orang dalam Kemenkeu, sebagai jaminan kontinuitas, bukan ancaman.

Tapi tidak semua nada seoptimis itu. 

Baca juga: Sehari di Fuqing: Menyusuri Tiga Wajah Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Tiongkok

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengingatkan bahwa penguatan di penutupan hari itu belum tentu bertahan. 

Ia memperkirakan tekanan terhadap IHSG dan rupiah bisa kembali muncul pada pembukaan perdagangan keesokan harinya, seiring meningkatnya ketidakpastian fiskal akibat pergantian mendadak ini. 

Rupiah sendiri ditutup melemah tipis 0,33 persen ke Rp17.669 per dolar AS — meski pelemahan itu lebih banyak dipicu penguatan dolar AS pasca rilis data inflasi konsumen AS, bukan murni faktor domestik. 

Ambiguitas inilah yang menggambarkan situasi sesungguhnya: pasar belum benar-benar tahu harus merasa lega atau waspada.

Di sinilah letak harapan yang sesungguhnya digantungkan pada Suahasil: bukan hanya soal kompetensi teknis yang jelas ia miliki, tapi soal kemampuan meredam gejolak yang justru ditimbulkan oleh cara penggantian ini sendiri. 

Ia mewarisi pekerjaan rumah yang sama — menjaga defisit APBN, memastikan pendapatan negara tetap tumbuh sehat, menyusun RAPBN 2027 yang bahkan belum sempat dirampungkan pendahulunya — namun dengan beban tambahan: meyakinkan publik dan pasar bahwa transisi mendadak ini tidak akan mengguncang arah kebijakan.

Penutup: Ketika Kepercayaan Diuji oleh Kecepatan

Ada pelajaran yang lebih besar dari sekadar pergantian nama di pucuk Kementerian Keuangan. 

Reshuffle ini mengingatkan bahwa di balik angka-angka fiskal yang dingin dan teknis, ada manusia-manusia yang bekerja dengan dedikasi, kadang tanpa tahu kapan giliran mereka akan usai. 

Purbaya meninggalkan jabatannya seperti ia memasukinya — dengan tenang, tanpa keributan, hanya sebuah telepon yang mengubah segalanya dalam hitungan jam.

Suahasil kini berdiri di titik yang sama, mewarisi bukan hanya neraca APBN, tapi juga tugas untuk membuktikan bahwa kecepatan pergantian ini tidak berarti guncangan pada arah kebijakan. 

Publik menatap harapan yang sama seperti setahun lalu — disiplin fiskal, pertumbuhan yang inklusif, kebijakan yang berpihak pada rakyat — kali ini dengan satu pertanyaan tambahan yang mengambang di udara: seberapa jauh kepercayaan bisa dibangun, ketika ia bisa runtuh dalam waktu yang dibutuhkan sebuah telepon untuk berdering?

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru