Jakarta, sanubari.co.id — Aktivitas vulkanik Gunung Ibu dan Gunung Dukono di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur belum berhenti.
Berdasarkan citra satelit Himawari-9, keempat gunung tersebut memunculkan kolom abu dengan ketinggian ribuan hingga belasan ribu kaki di atas permukaan laut.
Baca juga: Terpaksa Gunakan Jalur Darat
Arah sebarannya sangat bergantung pada pola angin setempat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun terus melakukan pemantauan melalui citra satelit. Pemantauan berkelanjutan ini bertujuan menjaga keselamatan penerbangan nasional.
Sekaligus melindungi kesehatan warga di sekitar kawasan terdampak.
Bagi dunia penerbangan, debu vulkanik berbahaya karena partikel silikanya dapat mengganggu kinerja mesin jet dan merusak sistem navigasi pesawat.
Karena itu, BMKG menyampaikan pembaruan data ruang udara secara berkala kepada pengelola bandara dan maskapai.
Baca juga: Erupsi Anak Krakatau Masih Berlangsung, 209 Penerbangan dari Jakarta Terdampak
Plt. Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG, Ida Pramuwardani, mengatakan koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk mengantisipasi meluasnya dampak.
"Hasil analisis citra satelit menunjukkan pergerakan debu vulkanik masih dinamis mengikuti arah angin regional," kata Ida dalam keterangan resminya.
"Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia, dan pengelola maskapai untuk memastikan rute penerbangan yang melintasi area terdampak tetap berada pada koridor yang aman," kata Ida lagi.
Di darat, petugas kebencanaan juga mewaspadai paparan abu. Permukiman di lereng gunung, seperti di Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan Lumajang, berpotensi mengalami hujan abu tipis hingga sedang jika erupsi berlanjut.
Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Berlanjut, Warga Pesisir Lampung dan Banten Waspada
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Richard Chaniago, mengimbau masyarakat mematuhi zona aman yang telah direkomendasikan.
"Kami meminta warga maupun wisatawan agar tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam radius berbahaya yang telah ditetapkan. Apabila harus beraktivitas di luar ruangan saat terjadi fenomena hujan abu, warga sangat disarankan menggunakan masker penutup hidung dan kacamata pelindung untuk mencegah iritasi," ujar Richard.
BMKG dan PVMBG juga meminta publik tidak mudah percaya pada rumor di media sosial. Informasi terbaru soal perkembangan erupsi dan pola sebaran debu vulkanik dapat diakses langsung melalui kanal resmi instansi terkait. (*)
Editor : Robby