SEMARANG, sanubari.co.id - Provinsi Jawa Timur kembali melakukan misi dagang perdana di 2026. Tujuannya ke provinsi Jawa Tengah. Dilaksanakan di Ballroom PO Hotel Semarang. Misi dagang ini dipimpin langsung Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
Khofifah mengatakan, misi dagang ini mencatatkan transaksi sebesar Rp 3.152.408.358.000. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas perdagangan dan memperluas pasar domestik.
Baca Juga: Pelindo Regional 3 Jawa Perkuat Komitmen K3 Lewat Management Walkthrough
Termasuk mendorong integrasi rantai pasok antar wilayah sebagai bagian dari penguatan ekonomi regional. “Matur nuwun semuanya. Ini menjadi sinergi yang luar biasa. Dari business matching yang dilakukan, terlihat adanya kebutuhan yang bersifat komplementer,” katanya, Jumat, 30 Januari 2026.
Menurut Khofifah, Jawa Timur dan Jawa Tengah saling membutuhkan produk satu sama lain. Itulah yang membuat nilai transaksi dalam misi dagang ini cukup fantastis. Dari total nilai transaksi tersebut terdiri atas Jatim Jual sebesar Rp 2.759.547.585.000, Jatim Beli Rp 296.860.773.000. Serta Jatim Investasi sebesar Rp 96 miliar.
Dalam skema Jatim Jual, Jawa Timur mencatatkan penjualan berbagai komoditas, antara lain rokok, beras, kopi, tetes atau molasses, pakan ikan dan udang, benih tebu, surimi, daging ayam dan sapi, produk olahan daging, dan susu.
Ada juga gula kristal putih, DOC, fillet dori dan aneka produk seafood, sapi ternak, benih tanaman pangan dan hortikultura, jagung, produk tekstil, veneer, ikan bandeng asap, benih jagung hibrida, udang dan kulit ikan, serta pupuk organik cair.
Sementara itu, dalam skema Jatim Beli, Jawa Timur melakukan pembelian kayu bulat, telur ikan, karung, cengkeh, tembakau, katul, minuman botanical seduh, sambal pecel, botol plastik, biji carica, tepung tapioka, tas anyam, serta gula merah tebu dari Jawa Tengah. Selain itu, pada skema investasi, Jawa Timur mencatatkan kerja sama pembangunan perumahan.
“Produk yang diperdagangkan mencerminkan kekuatan sekaligus kebutuhan masing-masing daerah,” kata Khofifah.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat melihat produk yang dijual dalam misi dagang di Semarang, Jawa Tengah.
Ia menegaskan, misi dagang ini merupakan agenda perdana Jawa Timur pada 2026 sekaligus kelanjutan upaya pemerintah provinsi dalam mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas. Termasuk memperkuat perdagangan dalam negeri, serta mendukung substitusi impor, khususnya untuk pemenuhan bahan baku industri.
“Misi dagang berkelanjutan menjadi instrumen penting untuk memfasilitasi pertemuan pelaku usaha penjual dan pembeli, baik melalui skema government to business maupun business to business, agar potensi kerja sama dan transaksi dapat terbangun lebih efektif,” ujarnya.
Dalam misi dagang kali ini, produk unggulan Jawa Timur yang mengalir ke Jawa Tengah didominasi sektor peternakan, pangan, industri pengolahan, perikanan, perkebunan, hingga hasil kehutanan.
Sepuluh transaksi terbesar tercatat pada kerja sama antara Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jawa Timur dan Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jawa Tengah dengan nilai mencapai Rp1,13 triliun per tahun. Kerja sama ini meliputi penjualan daging unggas, daging sapi, susu, telur, produk olahan daging, DOC ayam, hingga ternak sapi.
Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Pendidikan Lewat Jatim Cerdas, Gubernur Khofifah Terima Penghargaan BMPS
Kerja sama strategis lainnya terjalin antara PT Sinergi Gula Nusantara (Jawa Timur) dan PT Citra Gemini Mulya (Jawa Tengah) untuk komoditas gula kristal putih senilai Rp 300 miliar per tahun. Di sektor industri hasil tembakau, GAPERO Jawa Timur bekerja sama dengan PT TSPM Jawa Tengah dengan nilai transaksi Rp192 miliar per tahun.
Di sektor perikanan dan pangan, transaksi signifikan tercatat melalui penjualan surimi dan produk olahan oleh PT Indo Lautan Makmur senilai Rp 142,8 miliar per tahun, penjualan beras oleh CV Sumber Pangan Kediri senilai Rp 126,5 miliar per tahun, serta pakan ikan dan udang oleh PT Matahari Sakti senilai Rp 105,6 miliar per tahun.
Pada skema muatan balik, Jawa Timur juga melakukan pembelian kayu bulat dari Jawa Tengah melalui Perum Perhutani dengan nilai transaksi Rp 60,22 miliar per tahun. Pola ini mencerminkan perdagangan dua arah yang saling menguatkan.
Menurut Khofifah, perdagangan dua arah tersebut memperkuat integrasi pasar domestik sekaligus mengoptimalkan distribusi barang kebutuhan pokok, barang penting, dan komoditas strategis antarwilayah.
“Kita semua punya kekuatan dan kelemahan. Karena itu mari tumbuh bersama, berkembang bersama, maju bersama, dan sejahtera bersama. Kuncinya adalah sinergi dan kolaborasi yang terus dikuatkan,” tuturnya.
Khofifah menambahkan, penguatan perdagangan antarwilayah menjadi bagian dari strategi Jawa Timur dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Pada Triwulan III-2025, perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,22 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 5,04 persen.
Baca Juga: Khofifah Resmikan Permata Jatim di Bendomungal Pasuruan, Ajak Warga Jaga Lingkungan Berkelanjutan
Dengan nilai PDRB ADHB mencapai Rp 867,39 triliun, Jawa Timur berkontribusi 14,54 persen terhadap PDB nasional dan 25,65 persen terhadap PDRB Pulau Jawa. Struktur ekonomi Jawa Timur ditopang sektor industri pengolahan sebesar 31,16 persen, perdagangan 18,31 persen, pertanian 11,98 persen, dan sektor lainnya sebesar 38,55 persen.
Berdasarkan data Perdagangan Antarwilayah Indonesia, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan antarwilayah terbesar nasional sebesar Rp 209 triliun. Hingga Triwulan III-2025, total ekspor Jawa Timur mencapai Rp 1.234,16 triliun dan impor Rp 1.055,42 triliun, sehingga neraca perdagangan mencatat surplus Rp 178,74 triliun.
Adapun total perdagangan Jawa Timur–Jawa Tengah tercatat sebesar Rp 47,58 triliun, dengan nilai muat dari Jawa Timur ke Jawa Tengah sebesar Rp 28,31 triliun dan bongkar Rp 19,26 triliun. Dengan demikian, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan Rp 9,05 triliun terhadap Jawa Tengah.
Sejak 2019 hingga Januari 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyelenggarakan 49 misi dagang domestik di 29 provinsi dengan total nilai komitmen transaksi Rp 30,52 triliun yang melibatkan 2.410 pelaku usaha. Selain itu, enam misi dagang luar negeri sepanjang 2022–2025 membukukan potensi transaksi Rp 5,896 triliun.
“Keberhasilan ini menunjukkan produk unggulan Jawa Timur memiliki daya saing tinggi. Semangat kolaboratif ini kami harapkan terus terbangun bersama Jawa Tengah,” ujar Khofifah.
Sebagai penguatan sinergi antarwilayah, misi dagang Jatim–Jateng juga ditandai dengan penandatanganan sejumlah Perjanjian Kerja Sama antara organisasi perangkat daerah dan organisasi dunia usaha dari kedua provinsi. (*)
Editor : Redaksi Sanubari