Ratusan jamaah hadiri doa bersama, Gubernur Khofifah turut hadir

Istighotsah JKSN di Surabaya, Kyai Asep Serukan Doa untuk Bangsa dan Stabilitas Global

avatar sanubari.co.id
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (kanan) saat memanjatkan doa.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (kanan) saat memanjatkan doa.

SURABAYA, sanubari.co.id - Suasana khusyuk menyelimuti Sekretariat Jaringan Kyai Santri Nasional Jawa Timur di Surabaya, Selasa 3 Maret 2026, malam. Di sana ratusan jamaah melakukan istighosah dan doa bersama. Dipimpin langsung oleh Asep Saifuddin Chalim.

Ulama yang akrab disapa Kyai Asep itu dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet dan Surabaya. 

Baca Juga: Dikhawatirkan Jadi Ancaman, 2.000 Bom Israel Sasar Fasilitas Rudal Iran

Dalam kesempatan tersebut, ia memimpin rangkaian doa dan istighosah. Serta salat hajat yang ditujukan bagi kemaslahatan bangsa dan negara. Acara itu turut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. 

Hadir juga sejumlah tokoh agama. Serta kepala organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. 

Kehadiran para pejabat dan ulama mempertegas bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin keagamaan semata. Melainkan momentum spiritual yang sarat pesan kebangsaan.

Kyai Asep mengatakan, doa yang dipanjatkan bukan untuk kepentingan sesaat saja. Melainkan kemaslahatan Jawa Timur, hingga Indonesia. Terkhusus Mojokerto. 

Ia menyebut istighosah sebagai ikhtiar spiritual untuk mengawal kepemimpinan nasional. Tujuannya agar tetap berada di jalur kepentingan rakyat.

“Kepala daerah yang kita usung sejalan dengan Pak Prabowo. Kita punya tanggung jawab moral untuk mengawal sampai tuntas. Harus kita pertanggungjawabkan dengan doa. Agar beliau selalu terlindungi, dibimbing Allah, dan berhasil dalam setiap upayanya,” ucapnya.

Menurutnya, cita-cita Indonesia maju, adil, dan makmur hanya dapat terwujud jika pemimpin berpihak kepada rakyat. 

Ia mengutip kaidah fikih siyasah, tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil mashlahah, yang berarti kebijakan pemimpin harus selalu berorientasi pada kemaslahatan umat.

Kyai Asep juga menyinggung harapan agar Mojokerto dapat menjadi miniatur Indonesia yang maju dan berkeadilan. Namun, ia mengingatkan, seluruh upaya itu membutuhkan pengawalan doa yang terus-menerus.

Dalam tausiyahnya, ia turut menyoroti potensi gejolak global yang berdampak pada ekonomi nasional, termasuk kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak akibat dinamika geopolitik internasional. 

Ia mengingatkan subsidi energi menyedot anggaran negara dalam jumlah besar, sehingga setiap kenaikan harga berpotensi menekan APBN.

Baca Juga: Geopolitik Timur Tengah Terus Memanas, Kemendag Lakukan Ini...

Ia menyinggung konflik global yang menurutnya berkontribusi terhadap stabilitas tersebut. Termasuk ketegangan yang melibatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Kita prihatin dengan kondisi dunia. Prediksi kenaikan BBM ini harus kita doakan agar tidak terjadi. Karena kalau subsidi membengkak, APBN tersedot, rakyat juga yang terdampak,” tegasnya.

Ia juga menyuarakan solidaritas terhadap Palestina. Kyai Asep mengaku bersyukur atas pernyataan utusan Palestina yang menyebut Presiden RI sebagai representasi perjuangan mereka dalam forum-forum perdamaian internasional.

“Saya senang sekali ketika utusan Palestina menyampaikan bahwa Pak Prabowo menjadi representatif suara mereka di forum perdamaian dunia. Palestina tidak mungkin masuk ke forum itu, tapi melalui Indonesia, suara keadilan tetap disuarakan,” katanya.

Bagi Kyai Asep, doa bukan sekadar ritual, melainkan kekuatan spiritual umat Islam dalam menghadapi ketidakadilan global. Kegeraman terhadap ketimpangan dunia, ujarnya, harus disalurkan secara bermartabat melalui doa dan munajat.

“Kita tidak bisa berbuat banyak dalam politik global. Tapi doa adalah senjata. Dengan doa, kita mengetuk langit agar keadilan ditegakkan,” ujarnya.

Ia pun mengajak jamaah untuk terus mendoakan para pemimpin bangsa agar tetap istiqomah, berani melawan praktik korupsi, dan menutup tambang ilegal. Serta mengembalikan kekayaan negara yang dicuri.

Baca Juga: Operasi Militer Gabungan AS-Israel ke Teheran Tewaskan Ali Khameini

Menurut dia, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas dan berani mengambil risiko demi kepentingan rakyat luas. “Bukan hanya keselamatan yang kita doakan, tapi agar selalu dibimbing Allah dalam setiap keputusan,” tambahnya.

Istighotsah yang digelar rutin ini menjadi ruang konsolidasi moral sekaligus penguatan komitmen kebangsaan. 

Di tengah dinamika politik dan ekonomi global, Jaringan Kyai Santri Nasional menegaskan posisinya sebagai elemen umat yang berikhtiar menjaga stabilitas bangsa melalui pendekatan spiritual.

Malam itu, doa-doa dipanjatkan dengan harapan Indonesia tetap kokoh menghadapi tekanan global. Termasuk harga kebutuhan pokok terkendali, dan kepemimpinan nasional mampu menghadirkan keadilan. 

Keadilan yang dimaksud bukan hanya bagi rakyat Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia yang tertindas. 

Di Surabaya, lantunan istighosah menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk politik dan ketegangan geopolitik, ada ikhtiar sunyi yang terus bekerja: doa yang dipanjatkan dengan keyakinan, demi negeri yang lebih adil dan bermartabat. (*)

Berita Terbaru