Kerja Sama Internasional di Chiba Institute of Science

Belajar Manajemen Krisis ke Jepang, BPBD Jatim Perkuat Mitigasi Bencana

avatar Michael Fredy Yacob
Tim BPBD Jatim saat mengikuti The 10th International Conference on Integrated Crisis Management yang digelar di Chiba Institute of Science, Jepang, Sabtu, 13 Juni 2026.
Tim BPBD Jatim saat mengikuti The 10th International Conference on Integrated Crisis Management yang digelar di Chiba Institute of Science, Jepang, Sabtu, 13 Juni 2026.

SURABAYA, sanubari.co.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur terus memperkuat kapasitas penanggulangan bencana lewat forum internasional. 

Langkah ini diwujudkan melalui partisipasi dalam The 10th International Conference on Integrated Crisis Management yang digelar di Chiba Institute of Science, Jepang, Sabtu, 13 Juni 2026.

Baca Juga: BPBD Jatim Dropping Air Bersih Antisipasi Kekeringan

Dalam forum tersebut, BPBD Jatim mempelajari berbagai praktik terbaik manajemen krisis terpadu.

Delegasi BPBD Jatim dihadiri oleh Kabid KL Satriyo Nurseno, Kasubbag Umum dan Kepegawaian Galih Perwira Kusuma.

Lalu ada Ketua Tim Pusdalops Muhammad Amrul, dan Analis SDM Aparatur Ahli Pertama Dino Andalananto. Turut hadir pula Kepala UPT PPK BPKAD Prov. Jatim, Marta Mukti Widodo.

Konferensi ini menjadi ajang pertukaran pengetahuan terkait manajemen risiko, penanggulangan bencana, dan penguatan ketahanan masyarakat menghadapi krisis global. 

Dalam forum ini, Chiba Institute of Science juga menyerahkan bantuan kamera dan panel surya untuk mendukung operasional kesiapsiagaan bencana di Jawa Timur.

Tim BPBD Jatim saat mengikuti The 10th International Conference on Integrated Crisis Management yang digelar di Chiba Institute of Science, Jepang, Sabtu, 13 Juni 2026.Tim BPBD Jatim saat mengikuti The 10th International Conference on Integrated Crisis Management yang digelar di Chiba Institute of Science, Jepang, Sabtu, 13 Juni 2026.

Pentingnya Standarisasi Sistem Komando Bencana

Pada sesi kuliah utama, Visiting Professor Chiba Institute of Science Hirotaka Yamashita membawakan tema “Japan's Security as Seen from the Iran and Ukraine Wars”. Ia menjelaskan dinamika geopolitik global telah mengubah paradigma keamanan nasional.

"Keamanan nasional pada era modern membutuhkan kombinasi teknologi baru, kapasitas industri pertahanan, ketahanan nasional, dan kemandirian strategis," ujar Hirotaka.

Sementara itu, Dewan Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia Mu’man Nuryana, bersama Associate Professor Faculty of Risk and Crisis Management Chiba Institute of Science Hitoshi Igarashi, menyoroti pentingnya penerapan Incident Command System (ICS) dalam bencana skala besar.

Menurut Mu’man, penanganan bencana besar memerlukan koordinasi yang terstandarisasi lewat ICS agar organisasi, relawan, dan lembaga bisa bergerak sebagai satu tim.

Tanpa standar ini, respons awal berpotensi membingungkan, memicu tumpang tindih tugas, hingga menghambat penyelamatan korban.

Baca Juga: Pemprov Jatim Lakukan Modifikasi Cuaca, Redam Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Hitoshi Igarashi menambahkan, penerapan ICS di Indonesia memiliki karakteristik unik karena mengadaptasi budaya gotong royong dan kelembagaan lokal melalui peran Tagana serta Kampung Siaga Bencana.

Keduanya sepakat bahwa keberhasilan manajemen bencana tidak hanya ditentukan struktur komando, tetapi juga kesejahteraan personel dan keterlibatan aktif masyarakat.

Mengadopsi Pengalaman Jepang Hadapi Krisis Kompleks

Dalam diskusi panel, Profesor University of Human Arts and Sciences Hiromitu Sato memaparkan pengalaman Jepang menghadapi rentetan krisis.

Mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kecelakaan nuklir Fukushima, hingga pandemi Covid-19.

"Pengalaman Jepang menunjukkan penanganan bencana harus komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Tidak boleh hanya fokus pada penyelamatan korban dan pemulihan infrastruktur," kata Hiromitu.

Merespons hal itu, Kabid KL BPBD Jatim Satriyo Nurseno menilai partisipasi ini menjadi kesempatan strategis memperluas jejaring internasional.

"Kami mendapat banyak pelajaran tentang sistem komando, koordinasi lintas sektor, dan budaya kesiapsiagaan masyarakat. Pengalaman Jepang menjadi referensi berharga untuk Jawa Timur," tuturnya.

Baca Juga: Khofifah Serahkan Penghargaan Layanan Publik-Kinerja 2025, BPBD Jatim Raih Sakip AA

Satriyo menambahkan, tantangan kebencanaan saat ini semakin kompleks akibat perubahan iklim dan urbanisasi.

Kondisi ini menuntut manajemen risiko yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis pengetahuan. Sinergi ini harus melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas, relawan, hingga masyarakat.

Ke depan, Chiba Institute of Science dan BPBD Jatim berkomitmen melanjutkan kolaborasi peningkatan kapasitas SDM dan sarana kebencanaan.

Kerja sama ini juga membuka peluang beasiswa pendidikan di Jepang bagi generasi muda untuk mencetak SDM unggul di bidang mitigasi bencana.

Selain Hiromitu Sato, diskusi panel tersebut juga menghadirkan Kunihiro Mimura (Tokyo Healthcare University), Tamotsu Shinozuka (Chiba Institute of Science).

Lalu, Hidehiro Kimura, serta Hiroya Toda yang mengulas penguatan sistem manajemen krisis di berbagai sektor. (*)

Berita Terbaru