SIDOARJO, sanubari.co.id – Memainkan pisau palet dalam teknik seni rupa tak sembarang bisa dikuasi setiap pelukis. Perlu pemahaman mendalam tentang konsistensi cat dan angle (sudut) pisau saat digunakan. Pun melukis bunga yang selama ini dianggap sebagai objek yang mudah dilukis.
Untuk itulah, Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) Jawa Timur yang diketuai Nunung Harso, perlu mendatangkan pakarnya untuk dapat memberikan pengetahuan tambahan bagi para anggota agar dapat belajar melukis bersama pelukis senior ternama dari Sidoarjo, Bangun Asmoro.
Agenda itu menjadi bagian dari agenda Bakti Sosial dan Workshop Melukis yang digelar di rumah Ketua Pelaksana Acara Anny Djon di Sidoarjo pada Sabtu, 22 Agustus 2026 untuk merayakan Hari Anak Nasional 23 Juli dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus.
Menyaksikan bagaimana Bangun praktik melukis secara langsung, para peserta tahu bahwa melukis dengan palet bukan sekadar menumpuk cat setebal mungkin. Melainkan ada permainan intensitas cahaya, bayangan di celah tumpukan cat, serta ketajaman garis tepi.
Jika diterapkan -menurut Bangun- maka hal itu memberi karakter segar dan hidup pada kelopak bunga yang mekar. Meski terdengar mudah, tapi tip sederhana itu sulit dilakukan. Surati, peserta yang jauh-jauh datang dari Tuban, merasakan sulitnya memainkan pisau palet.
Demikian pula yang dirasakan Setyorini, Esti S Ardian, Irdina Larasati, Sri Muhartini, Nuniek Silalahi, Iva Kartika, Widijawati Wilopo, dan Fifin Widyaprasti. Mereka menyimak penjelasan Bangun bahwa teknik pisau palet menuntut keberanian sekaligus kontrol tangan yang presisi, karena kesalahan memoles cat tebal tidak mudah disembunyikan.
”Berbeda dari kuas yang mengalir mengikuti tekstur helai, pisau palet memaksa kita -pelukis- untuk memperlakukan cat seperti adonan impasto—menumpuk warna secara langsung di atas kanvas tanpa banyak pencampuran sekunder. Mencampurnya ya langsung di kanvas,” terang Bangun.
Tantangan terbesar menggambar bunga dengan teknik palet terletak pada kontradiksi karakteristik objek dan alat. Bunga adalah objek yang lembut, bertekstur tipis, lekukan kelopaknya halus, dan gradasi warnanya samar. Sementara pisau palet itu kaku, tegas, bernuansa geometris, dan meninggalkan batas cat yang tajam.
Karena itu pelukis harus pintar memanfaatkan sudut besi palet untuk membentuk lengkungan halus kelopak, sembari menjaga tebal-tipisnya cat agar bentuk tidak berubah menjadi bongkahan cat yang membingungkan. “Tapi, justru di situlah tantangannya. Makanya jangan sepelekan menggambar bunga,” ujar Bangun.
Objek yang sepertinya gampang itu perlu ketepatan teknik. Bersama Bangun, para peserta jadi lebih menghargai bunga sebagai objek yang menantang. “Kami ingin bisa melukis bunga dengan teknik palet yang jarang digunakan. Semoga setelah ini kami bisa menggambar bunga sebagus Pak Bangun,” kata Anny.
Menurut Anny, lukisan bunga karya Bangun menarik perhatian para anggota IWPI Jatim yang rata-rata menyukai melukis objek indah tersebut. Tapi sayang, selama ini bunga terkesan disepelekan sebagai objek biasa. “Dikira melukisnya mudah padahal tidak demikian. Makanya kami ingin menambah pengetahuan langsung dari ahlinya,” katanya.
Selama workshop, rata-rata menemui kesulitan yang berbeda. Biasanya tentang volume dan dimensi kelopak yang menentukan. Salah menempatkan tekanan pada pisau palet bisa membuat kelopak bunga terlihat berat dan kaku seperti batu, hilang kesan mekar dan keanggunannya.
Kesulitan lainnya adalah tentang pengelolaan warna primer dan impasto. Pencampuran warna langsung di kanvas sering kali berisiko menghasilkan warna yang keruh jika cat bergeser terlalu sering saat menggoreskan pisau. Itu seperti yang dirasakan Setyorini yang berkali-kali gagal mendapatkan warna yang dimaksud.
Kesulitan berikutnya adalah detail organik pada bunga. Seperti membentuk lekukan putik, tangkai, atau pucuk daun yang tipis membutuhkan goresan pisau palet satu kali jadi. ”Kata Pak Bangun, harus yakin menggoresnya. Jangan ada ruang untuk ragu-ragu karena sekali tarikan pisau sangat menentukan hasilnya,” ujar Irdina.
Workshop dilakukan setelah 15 anak-anak panti asuhan binaan Yayasan Baitul Farah Sidorajo ikut pelatihan melukis tote bag. Selain mengajak anak-anak berkarya, IWPI Jatim menyerahkan bantuan kepada yayasan yang diterima Yuliani. Tak lupa bingkisan kepada anak-anak berupa makanan, snack, uang saku, dan sepatu.
Atas lancarnya acara, Wakil Ketua IWPI Jatim Widijawati Wilopo mewakili ketua, menyampaikan salut atas antusiasme peserta meningkatkan kemampuan melukis terutama dengan teknik palet bersama pakarnya. “Biar bunga yang kita lukis nanti akan makin mengandung makna seperti lukisan Pak Bangun,” katanya.
Pembinaan skill anggota IWAPI Jatim sangat diperhatikan. Salah satunya lewat program Seksi Pendidikan yang dikoordinatori Maria Nofita baik untuk internal dan eksternal. “Apa yang dilatihkan kali ini semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan. Sebab anggota kami tak hanya berkarya tapi membuat sesuatu untuk dijual, baik berupa lukisan kanvas, tas, baju, maupun kerudung," tandas Wiidijawati. (*)
Editor : Heti Palestina Yunani