Iran, sanubari.co.id — Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah sebuah kapal kargo Iran dilaporkan diserang pada Minggu dini hari, 13 September 2026, di perairan dekat Pulau Qeshm. Media pemerintah Iran melaporkan insiden tersebut menewaskan satu orang dan melukai empat lainnya.
Serangan ini terjadi hanya sehari sebelum Teheran dijadwalkan memberikan pengarahan kepada negara-negara di kawasan mengenai upayanya yang kontroversial dalam mengelola lalu lintas pelayaran di selat tersebut. Insiden ini sekaligus menjadi pengingat akan risiko serius yang masih membayangi jalur pelayaran global, di tengah meningkatnya ancaman lain di kawasan — termasuk pergerakan kelompok Houthi yang didukung Iran, yang belakangan berhasil menguasai sebuah pulau strategis di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah.
Otoritas setempat di Qeshm menyebut serangan tersebut sebagai ulah "terorist enemy" tanpa merinci lebih lanjut pihak yang dituduh bertanggung jawab. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat terkait insiden tersebut.
Serangan terhadap kapal Iran ini merupakan bagian dari rangkaian panjang krisis di Selat Hormuz yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, menyusul serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sempat melarang pelayaran melintasi selat tersebut, serta dilaporkan menyerang kapal-kapal dagang dan menanam ranjau laut di perairan strategis itu.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia — sebelum krisis dimulai, sekitar seperempat volume perdagangan minyak dunia dan seperlima gas alam cair global melewati jalur sempit ini setiap harinya. Gangguan berkelanjutan di jalur tersebut turut memicu kekhawatiran akan krisis bahan bakar global.
Selain insiden di Qeshm, lembaga pemantau maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), turut melaporkan adanya kapal lain yang terkena hantaman proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz. Kru kapal tersebut dilaporkan berhasil dievakuasi oleh otoritas setempat setelah kebakaran sempat terjadi akibat insiden itu.
Situasi di Selat Hormuz hingga kini masih dinilai sebagai salah satu titik krisis paling rawan di kawasan Timur Tengah, dengan potensi dampak luas terhadap stabilitas harga energi dan keselamatan pelayaran internasional. Pihak-pihak terkait, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan, diperkirakan akan terus memantau perkembangan situasi ini dalam beberapa hari mendatang.
Editor : Robby