Nepal, sanubari.co.id - Bencana banjir bandang dahsyat menerjang wilayah utara Nepal di sepanjang koridor perbatasan dengan Tibet sejak Rabu (26/8/2026). Gelombang air bah bercampur lumpur menghantam permukiman, jembatan, dan infrastruktur perbatasan secara tiba-tiba.
Hingga Kamis, 27 Agustus 2026, tim SAR gabungan telah mengevakuasi sedikitnya 165 korban tewas. Lebih dari 400 orang masih dinyatakan hilang, termasuk puluhan wisatawan asing dan peziarah Kailash-Manasarovar (asal AS, Australia, India, dan Malaysia), pekerja proyek PLTA, serta belasan petugas keamanan pos perbatasan.
Berdasarkan analisis Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dan Lembaga Manajemen Risiko Bencana Nepal (NDRRMA), kejadian ini disebabkan runtuhnya gletser (glacial collapse) dan avalans es-batuan di kawasan hulu Himalaya. Material runtuhan tersebut membendung aliran Sungai Lhende Khola sebelum akhirnya jebol dan memicu arus banjir lumpur (debris flow) berkecepatan tinggi.
Dampak terparah berpusat di Distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading, dengan ancaman air bah hingga ke wilayah hilir seperti Gorkha dan Chitwan. Kerusakan fisik mencakup 35 jembatan kendaraan, 45 jembatan gantung, puluhan kilometer akses jalan perbatasan Kathmandu dengan Gyirong, serta hancurnya pemukiman warga.
"Rasa sakit dan kehilangan yang dialami masyarakat tidaklah kecil. Negara hadir bersama Anda dengan seluruh sarana dan sumber daya yang dimiliki untuk penyelamatan, perawatan medis, dan penyaluran bantuan darurat," kata Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah.
Pemerintah Nepal telah menetapkan status krisis bencana untuk wilayah terparah. Militer Nepal (Nepal Army) pun dikerahkan untuk membantu proses penanganan korban dengan menggunakan helikopter menuju titik-titik terisolasi seperti Timure dan Syabrubesi. Sementara itu, tim SAR darat disebar di sepanjang bantaran Sungai Trishuli hingga Chitwan untuk mencari korban hanyut.
Sebagai bentuk solidaritas, sejumlah negara dan organisasi internasional telah mengalirkan bantuan darurat untuk mendukung penanganan bencana banjir bandang di Nepal.
India mengirimkan 10 metrik ton bantuan logistik bencana yang mencakup tenda pengungsian darurat, selimut, perlengkapan kebersihan (hygiene kits), lampu tenaga surya, serta pasokan obat-obatan. China menyediakan bantuan tunai darurat dan logistik penanganan bencana melalui koordinasi kedutaan besar. Selain itu, pemerintah China mengerahkan tim SAR berpengalaman (termasuk Beijing dan Sichuan Fire Rescue Corps) untuk menangani daerah perbatasan terdampak.
Selanjutnya ada Amerika Serikat yang mengirimkan dana bantuan darurat sebesar USD500.000, 10 metrik ton obat-obatan esensial, serta menerjunkan tim penasihat tanggap bencana (disaster response adviser). Uni Eropa (UE) juga telah mengaktifkan pemetaan satelit Copernicus untuk membantu otoritas lokal melacak korban hilang dan memetakan tingkat kerusakan kawasan terisolasi.
Organisasi Internasional.
Selain pemerintah, bantuan juga datang dari beberapa lembaga internasional. IFRC (Federation of Red Cross) memberikan dana darurat sebesar 1 juta franc Swiss (sekitar USD1,2 juta) untuk pengadaan logistik bagi para korban. WHO (World Health Organization) mengirimkan pasokan obat dan peralatan medis darurat. MSF & Save the Children mengirimkan tim penilaian medis darurat ke lokasi kritis seperti Timure, Rasuwagadhi, dan Syabrubesi untuk membantu pendistribusian bantuan di lapangan.
Editor : Robby