Dari wadah hobi yang sempat meredup, komunitas ini bertransformasi menjadi ruang inklusif

Pukulan Juara Tenis Pupuk Kaltim

avatar Michael Fredy Yacob
Tim tenis yang juara di turnamen yang diadakan PT PKT Bontang
Tim tenis yang juara di turnamen yang diadakan PT PKT Bontang

SORE mulai temaram di lapangan tenis kawasan PC VI PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), Bontang. Pantulan bola hijau berpadu dengan derai tawa dan sapaan akrab para pemain. 

Di satu sudut, seorang pemain senior tampak telaten mengajarkan teknik forehand kepada juniornya. Di sudut lain, anak-anak karyawan berlarian riang menunggu giliran mengayunkan raket.

Baca Juga: Pupuk Kaltim Latih Petani Kompos

Pemandangan itu melukiskan wajah baru tenis di Pupuk Kaltim—kini tak ubahnya ruang komunal yang meleburkan sekat lintas generasi. Lebih dari sekadar ajang memeras keringat, lapangan itu telah menjelma menjadi simpul silaturahmi.

Namun, di balik kehangatan tersebut, terentang riwayat panjang yang tak cuma melahirkan deretan atlet kampiun, tetapi juga memahat budaya olahraga di perusahaan.

Tarik mundur ke puluhan tahun silam, jejak itu bermula dari sebuah lapangan di kawasan Hotel Bintang Sintuk.

Para karyawan yang keranjingan tenis mulai merintis perkumpulan kasual. Kesamaan minat ini lantas membidani lahirnya Sintuk Tennis Club (STC), cikal bakal Pupuk Kaltim Tennis Club (PTC) yang dikenal saat ini.

Tiga pembina PTC—Ngateno, Wawan Ari Susanto, dan Deplian Maherdianta—masih mengingat betul masa-masa perintisan tersebut. Menurut Ngateno, kala itu hampir semua cabang olahraga di lingkungan perusahaan telah memiliki organisasi resmi.

“Hanya tenis yang masih berjalan informal, dikelola para pencintanya tanpa wadah pasti,” ujarnya.

Padahal, ada misi besar yang menanti diwujudkan. Pembinaan atlet junior bagi putra-putri karyawan sebenarnya sudah berjalan di lapangan PC VI, meski masih sporadis.

Sejak STC terbentuk, kompas pembinaan mulai memiliki arah. Keanggotaan tak melulu diisi karyawan, melainkan juga putra-putri mereka serta atlet muda potensial di ring perusahaan.

STC pun bergegas meracik sistem pembinaan terstruktur. Tak sekadar mencetak petenis handal, klub ini membidik pembentukan karakter disiplin, suportif, dan bermental juara.

Tonggak penting tertancap ketika pembina klub kala itu, Bowo, menggagas kerja sama dengan Yayuk Basuki Tennis Academy (YBTA).

"Selama dua tahun, akademi milik legenda tenis Indonesia itu menerjunkan pelatih nasional untuk mendampingi pembinaan atlet muda kami," kata Wawan Ari Susanto.

Kolaborasi ini membelah fokus pembinaan ke dalam dua jalur. Jalur pertama adalah kelas ekstrakurikuler untuk pengenalan teknik dasar bagi anak-anak karyawan. Sementara jalur kedua difokuskan sebagai kelas prestasi.

Pada jalur ini, pintu klub dibuka lebar bagi bibit muda berbakat di seantero Bontang sebagai wujud pengejawantahan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.

Hasilnya terbilang moncer. Para atlet binaan STC sukses menembus berbagai kejuaraan nasional kelompok umur 10 dan 12 tahun. Di tingkat daerah, dominasi mereka nyaris tak tertandingi selama enam tahun berturut-turut.

“Nama-nama atlet muda Pupuk Kaltim hampir selalu jadi unggulan di setiap kejuaraan junior Kalimantan Timur,” ucap Wawan.

Baca Juga: Pupuk Kaltim Khitan 150 Anak

Namun, roda organisasi terus berputar mengikuti dinamika perusahaan. Penyesuaian kebijakan internal membuat program prestasi untuk beberapa cabang olahraga terpaksa dihentikan, termasuk tenis. Kongsi dengan akademi Yayuk Basuki pun purnatugas.

Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin dipandang sebagai senjakala. Namun, bagi komunitas tenis Pupuk Kaltim, inilah fajar transformasi.

Di bawah bendera Badan Pembina Olahraga (Bapor) Pupuk Kaltim, entitas ini bersalin rupa menjadi Pupuk Kaltim Tennis Club (PTC) dengan mengusung panji baru: "PTC Terus Maju".

"Kami tidak melihat perubahan ini sebagai kemunduran, tapi peluang membangun budaya olahraga yang lebih luas. Tenis harus tetap hidup sebagai sarana kesehatan karyawan," tutur Deplian Maherdianta.

Transformasi paling masif bergulir pada awal 2023 tatkala tongkat estafet kepengurusan diserahkan kepada barisan Milenial dan Gen Z. Di bawah nakhoda Septian Seno Rinaldhie, PTC menempuh jalur yang lebih inklusif dan menyenangkan.

Pendekatan anyar ini beresonansi dengan arahan direksi yang menginginkan klub sebagai motor penggerak kebugaran internal perusahaan.

Beragam program segar diluncurkan. Turnamen internal khusus pemula (beginner) jadi primadona, memberi panggung bagi karyawan yang baru pertama kali memegang raket agar bisa belajar tanpa dibayangi rasa canggung.

Ada pula coaching clinic, fun tennis, hingga laga persahabatan lintas unit yang rutin digelar. “Kami ingin memupus stigma bahwa tenis adalah olahraga eksklusif. Semakin banyak yang belajar, di situlah kami merasa tujuan klub tercapai,” ujar Seno.

Baca Juga: Pupuk Kaltim Sabet Penghargaan Pajak

Lapangan tenis yang sebelumnya hanya ramai di waktu-waktu tertentu, kini kembali berdetak hidup. Gairah inklusif ini disempurnakan dengan sebuah kredo nyentrik yang kini melekat sebagai identitas PTC: “Menang Jumawa, Kalah Bahagia.”

Wakil Ketua PTC, Budi Hermawan, menjelaskan bahwa kredo bernada jenaka itu sejatinya menyimpan pesan sportivitas yang mendalam. Kemenangan tak boleh membuahkan arogansi, sementara kekalahan tak pantas merenggut kegembiraan dalam berolahraga. 

“Kami ingin setiap pertandingan berakhir dengan senyum. Budaya inilah yang membuat setiap anggota merasa ikut memiliki klub,” terangnya.

Rasa kepemilikan dan solidnya kebersamaan (chemistry) inilah yang ironisnya menjadi amunisi paling mematikan di arena kompetisi. 

Pada Turnamen Tenis Olimpiade Pupuk Indonesia Group 2025, PTC tampil mengejutkan. Tak sekadar unjuk gigi, mereka merengkuh gelar Champion dengan menumbangkan para pesaing dari berbagai anak perusahaan.

Tuah persaudaraan itu kembali terbukti di tahun berikutnya. PTC sukses mempertahankan mahkota juara di ajang yang sama pada 2026. Budi menengarai, rentetan trofi ini hanyalah 'bonus' dari kultur saling dukung yang telanjur mengakar kuat di tubuh klub.

Bagi Seno dan Budi, keberhasilan ini adalah pijakan untuk melompat lebih jauh. Sebuah klub pada akhirnya tidak semata diukur dari gemerlap medali, tetapi dari kemampuannya merajut ruang kebersamaan di tengah penatnya dinamika dunia kerja.

“Ke depan, kami ingin PTC menjadi rumah bagi siapa saja yang mencintai tenis. Kami akan terus melangkah maju tanpa sedetik pun melupakan nilai kebersamaan yang menjadi fondasi klub ini,” kata Seno menegaskan. (*)

Berita Terbaru

Serba Serbi,

Wajah Baru Pariwisata Jawa Timur

GRESIK, sanubari.co.id - Pemilihan Duta Wisata Raka Raki Jawa Timur 2026, selesai. Pagelaran itu telah menobatkan dua nama baru sebagai wajah pariwisata

Serba Serbi,

Karyawan PSE Bantah Gaji Ditahan

BONTANG, sanubari.co.id - Karyawan PT Prima Solid Energi (PSE) kompak bantah isu gaji tidak terbayarkan oleh perseroan. Bagi mereka, selama bekerja perusahaan